Agama
Sumber Media: MTsN Ujungjaya Sumedang
Gaya Hidup, Warta
Busana yang paling diminati adalah hijab atau gamis syar'i, dengan berbagai macam corak dan model.
Meski demikian, Linda membuat beberapa busana lain dengan bahan biasa. Biasanya busana ini dibeli untuk alternatif. Jadi, pembeli justru membeli dua buah pakaian, yaitu gamis mahal dan ekonomis.
Harga yang dipatok di tokonya mulai Rp.100 ribu sampai Rp.500 ribu. Harga termahal dilengkapi dengan hiasan manik-manik, bordiran, atau payet. Ada juga gamis lebih mahal lainnya tapi khusus di Sumedang tidak laku karena harganya sudah tidak terjangkau.
Berita Media, Wisata
![]() |
| Wanawisata Gunung Kunci Sumedang |
Sektar 100 tahun lalu, Sumedang berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram yang kemudian diserahkan kepada pemerintahan Belanda, karena kalah perang. Saat itu, bupati yang memimpin adalah Pangeran Suriaatmaja atau Pangeran Mekah.
| Benteng Pasir Bilik Gunung Datar Sumedang |
Empat benteng di antaranya digunakan sebagai pertahanan Belanda untuk mengintai gerak-gerik sekutu. Satu benteng lainnya yaitu benteng air Darangdan digunakan menahan air di Sungai Cipeles. Pintu air pada benteng tersebut akan dibuka manakala ada penyerangan dari sekutu. Tujuannya, agar air Cipeles melimpah ke wilayah kota dan menghambat perjalanan rombongan.
| Benteng Cipeles Sumedang |
Sejak Pemerintah Hindia Belanda meninggalkan tanah Sumedang, banyak peninggalan belanda yang mempunyai nilai sejarah dan budaya. Sayang, sejak sepeninggalnya belanda pada 1950 di tanah Pasundan ini, benteng-benteng tersebut terbengkalai hingga kini.
Namun, keberadaan lima benteng masih unik untuk diceritakan, dinikmati, dan disaksikan. Menelusuri benteng-benteng tersebut menjadi wisata yang menakjubkan bagi sejumlah wisatawan minat khusus. Pemkab Sumedang memang tak pernah merawat benteng-benteng ini lalu menjadikannya sebuah objek wiata menarik. Sekarang, mari kita telusuri benteng-benteng tersebut.
Jadi Saksi Bisu Perang Dunia I
Enam benteng peninggalan masa pemerintahan Hindia Belanda di Kabupaten Sumedang sangat bisa menjadi objek wisata. Benteng tersebut unik dan langka karena dari seluruh kota/kabupaten peninggalan Belanda di Jawa Barat, hanya ada di Sumedang. Benteng-benteng yang dibangun mulai 1914 atau sekitar 1 abad lalu tersebut menjadi saksi sejarah Perang Dunia I pertama yang juga berdampak di Indonesia. Namun saying Pemkab Sumedang tak serius merawat peninggalan sejarah ini, padahal potensinya sungguh luar biasa.
“Benteng-benteng peninggalan ini sangat berpotensi menjadi objek wisata menarik karena unik, tapi tak pernah ada penanganan serius malah terbengkalai,” kata pengamat Sejarah dan Budaya di Sumedang Bibing Rusmana.
Menurut Bibing, pariwisata bisa dikembangkan jika ada dua hal yaitu keindahan dan keunikan. Jika Sumedang tak indah karena tak punya pantai, maka ada potensi lainnya yang unik yang bisa menjadi daya tarik wisata. Pegunungan di Sumedang masih menarik untuk dikunjungi. Apalagi selalu disertai cerita sejarah dan budaya yaitu sejarah masa penjajahan Belanda dan budaya kasundaan zaman Kerajaan Sumedang Larang.
Dari enam peninggalan benteng di Sumedang, dua benteng pernah dirawat, yaitu Benteng Palasari dan Benteng Gunung Kunci. Dua lokasi ini kini menjadi Taman Hutan Rakyat (Tahura). Semula, Gunung Kunci dan Palasari dikelola Perum Perhutani. Demi kelestarian dan konservasi, dua kawasan hutan kota ini ditarik kewenangannya oleh pemkab di bawah pengelolaan Dinas Kehutanan dan Perkebunan.
Kegiatan penataan pernah dilakukan di Gunung Kunci dengan dana lebih dari Rp 1 miliar pada 2010. Namun, kegiatan yang semua direncanakan di lokasi ini tak pernah terjadi seperti pementasan seni karena terbangun sebuah panggung terbuka dengan tribune yang mengelilinginya.
Kini, enam benteng ini terbengkalai dan tak pernah diangkat keunikannya. Padahal, masih ada banyak cerita dan sejarah yang belum terungkap dari benteng-benteng ini mengingat data dan informasi ini hanya dimiliki pemerintahan belanda dengan keamanan yang tinggi.
Meski Pemkab Sumedang kurang merawat lima BENTENG peninggalan kolonial Belanda, namun hingga kini benteng-benteng itu masih berdiri kokoh. Berikut kelima benteng tersebut :
1. Benteng Gunung Palasari
Benteng Palasari terletak di puncak Gunung Palasari, Kelurahan Pasangrahan, Kecamatan Sumedang Selatan. Benteng yang dibangun sekitar tahun 1913-1917 di atas lahan seluas 6 Ha ini berada di arah timur pusat pemerintahan Sumedang Larang. Terdiri dari 8 buah bangunan beton. Masing- masing benteng dibangun secara terpisah dalam jarak dekat satu sama lain dengan bentuk melingkar. Di dalam benteng ini terdapat 27 ruangan berpintu yang dilengkapi 25 buah jendela dengan 46 buah lubang ventilasi. Dulunya Benteng Palasari yang merupakan benteng tertinggi di sekitar kota Sumedang ini berfungsi sebagai gudang mesiu atau mungkin sebagai pos observasi yang hanya berjarak kurang dari 1 km dari Tangsi Belanda (sekarang KODIM 0610 Sumedang). Untuk menuju benteng ini, Anda bisa mendaki sedikit di Gunung Palasari dari Kampung Sindang Palay di samping Jl. Pangeran Kornel. Jalur pendakian lain adalah dari Nalegong yang berada di samping Jl. Pangeran Sugih. Kedua jalan raya ini adalah jalur utama lalu lintas Sumedang-Cirebon.
2. Benteng Gunung Kunci
DIBUAT sekitar 1914-1917. Bangunan di atas lahan seluas 4,6 Ha ini memiliki luas sekitar 2.600 m2 dengan dilengkapi ruangan bawah tanah (gua atau bengker) sekitar 450 m2. Benteng Gunung Kunci dulunya berfungsi sebagai benteng pertahanan yang dilengkapi kubah meriam dan senapan mesin. Belakangan diketahui bahwa benteng ini dibangun di tanah datar, namun pemerintah Belanda ingin mengelabui sekutu dengan menumpuk tanah di bagian atas benteng sehingga bangunan ini seperti berada di bawah bukit.
3. Benteng Gunung Gadung
Berada di sebelah utara sekitar 1 km dari pusat pemerintahan Sumedang Larang. Di lokasi ini, terdapat tiga bangunan dengan konstruksi beton bertulang kokoh sampai sekarang. Selain tempat penyimpanan sejata, dilengkapi dengan bungker berjendela yang berfungsi sebagai tempat pengintaian segala aktivitas di kota Sumedang dari arah selatan. Salah satu ruang di dalam benteng itu berukuran kurang lebih 18 meter persegi, dilengkapi ventilasi berupa cerobong udara. Ruang tersebut diperkirakan tempat tentara Hindia Belanda.
4. Benteng Pamarisen
BENTENG yang berada Kampung Pamarisen, Desa Mekarjaya Sumedang Utara ini sama fungsi dengan benteng lainnya, yaitu sebagai tempat pertananan dan penyimpangan mesiu. Terdapat dua bangunan dengan konstruksi terbuat dari beton bertulang. Bangunan pertama berukuran 3x2,5 meter dan bagunan lainnya berukuran 4x2,5 meter. Tempat benteng ini dikenal dengan sebutan Pamarisen Benteng. Sekarang, benteng itu sudah banyak yang dirobohkan. Sebuah SD juga dibangun di atas benteng ini serta dijadikan lapang sepak bola.
5. Benteng Pasir Bilik
Dinamai Benteng Pasir Bilik sesuai dengan nama tempat di lokasi tersebut, yaitu di Gunung Datar, perbatasan Sumedang Utara dan Tanjungkerta. Lokasi administratifnya berada di Desa Gunturmekar, Kecamatan Tanjungkerta. Dari benteng ini, terlihat pemandangan menuju laut Jawa di Cirebon. Itulah sebabnya Belanda membangun benteng di lokasi ini untuk mengintai pasukan sekutu yang tiba di Cirebon. Oleh warga setempat benteng ini disebut Gedong Peteng yang berarti gedung atau bangunan gelap.
6. Benteng Darmaga
Benteng Darmaga adalan benteng air yang dibuat di Kampung Darangdan, Kelurahan Kota Kulon, Sumedang Utara. Benteng ini dibuat untuk mengatur air Sungai Cipeles. Dengan dilengkapi pintu air, Belanda bisa mengatur pasokan air di sungai yang membelah kota Sumedang ini. Belanda juga bisa melimpahkan air ke wilayah kota jika ingin menghambat perjalanan tentara Sekutu yang melintas di jalan Sumedang.
Sumber Media: inilahkoran.com
Warta, Wisata
Berikut beberapa daftar tempat wisata di Sumedang yang menarik untuk Anda kunjungi bersama keluarga.
3. Gunung Tampomas
Gunung kunci adalah bukit kecil yang terletak sekitar 250 m di sebelah barat alun-alun kota Sumedang. Wisata Alam Gunung Kunci merupakan salah satu tempat wisata di Sumedang yang banyak dikunjungi wisatawan karena memilki pemandangan yang menakjubkan. Di sini juga terdapat gua peninggalan Belanda yang dulunya digunakan sebagai benteng pertahanan masyarakat Sumedang. Wisata Gunung Kunci ini terletak di sebelah utara alun-alun Sumedang kurang lebih 200 meter. Di sini Anda juga dapat menikmati udara yang sejuk dan fresh sehingga sangat bagus bagi pernafasan.
5. Kampung Toga
Alamat Kampung Toga :Jalan Makam Cut Nyak Dien Gn Puyuh Desa Sukajaya-Sumedang Selatan, Jawa Barat. Telp/Fax (0265) 206567
6. Air Terjun Sindulang
7. Taman Rekreasi Pangjugjugan
8. Museum Geusan Ulun
Museum Prabu Guesan Ulun terletak di tengah kota Sumedang, 50 meter dari Alun-alun ke sebelah selatan, berdampingan dengan Gedung Bengkok atau Gedung Negara dan berhadapan dengan Gedung-gedung Pemerintah. Jarak dari Bandung sekitar 45 km, sedangkan jarak dari Cirebon sekitar 85 km.
9. Alun-alun Sumedang
Mungkin tidak seperto kawasanperkebunan teh di Puncak, pengunjung diuntungkan dengan suasana yang jauh lebih asri dan alami di kawasan tersebut. Bisa dikatakan juga belum menjadi orang Sumedang jika belun pernah berkunjung ke perkebunan teh Margawindu.
Lingga, Sumedang, Warta
Secara lengkap arti dan makna lambang Kabupaten Sumedang adalah sebagai berikut:
- Perisai melambangkan ksatria utama, percaya kepada diri sendiri.
- Sisi merah melambangkan semangat keberanian.
- Dasar hijau melambangkan kemaksuran, pertanian.
- Bentuk setengah bola serta kubus pada lingga melambangkan bahwa manusia tidak ada yang sempurna.
- Sinar matahari melambangkan semangat rakyat dalam mencapai kemajuan.
- Warna kuning keemasan melambangkan keluhuran budi dan kebesaran jiwa.
- Sinar sebanyak 17 buah melambangkan angka sakti, tanggal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
- Delapan bentuk daripada lingga melambangkan bulan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
- Sembilan belas buah batu pada lingga, empat buah kaki tembok dan lima buah anak tangga melambangkan tahun proklamasi kemeredekaan Republik Indonesia (1945).
- Tulisan “Insun Medal” melambangkan kristalisai daripada jiwa dan kepribadian rakyat Sumedang.
- Dasar hitam melambangkan keteguhan jiwa rakyat Sumedang.
- Batu cadas berliku-liku putih melambangkan keberanian seorang Bupati Sumedang yaitu Pangeran Kornel yang telah menujukkan perlawanan terhadap penjajahan kolonial.
Sumber: R. Moch. Achmad Wiriamadja (SIKAP!, 2009)
Sejarah, Warta
Salah satu yang datang ke tempat itu Sanghiyang Resi Agung dari Nagri Galuh dan membuat padepokan di Cipeueut (Desa Cipaku Darmaraja, red) pinggir Sungai Cimanuk. Kemudian datang juga Guru Aji Putih ke tempat yang kini bernama Leuwihideung. Saat itulah mulai berdiri kerajaan Tembong Agung.
Guru Aji Putih inilah yang menyebarkan agama Islam di Sumedang dan dia adalah orang pertama yang bergelar haji karena berangkat ke Mekah untuk memperdalam agama Islam.
Nama Aji Putih pun berubah menjadi Guru Haji Aji Putih atau Haji Darmaraja. Makam Prabu guru Aji Putih itu kini berada di Pajaratan Landeuh Desa Cipaku.
Sumedanglarang sendiri muncul saat Tajimalela berkuasa di wilayah ini. Tajimalela saat itu berseru Insun Medal Madangan ketika selesai bertapa brata. Namun tak ada yang pasti apa arti kalimat itu. “Dari cerita-cerita di masyarakat maksudnya kula lahir di tempat ieu (madangan=tempat nyampurnakeun). Nama itu berubah melalui proses nasal (istilah basa) Sumedang Rarang dan menjadi Sumedang Larang,” kata Dharmawan yang lebih dikenal dengan nama Aki Wangsa yang juga pengarang buku Rucatan Budaya Bumi Sumedang.
Tajimalela ini kemudian menyerahkan kekuasan kepada ketiga anaknya Sunan Ulun, Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung yang akan menjadi raja dengan menyebutkan siapa yang membelah dewegan (kelapa muda) dan ada airnya dialah yang nanti menjadi raja setelah mereka sebelumnya bertapa. “Ternyata yang membuka dewegan ada airnya itu Prabu Lembu Agung tetapi ia menolak menjadi raja karena sesuai tradisi yang menjadi raja yang tertua,” katanya dan terjadi perkelahian karena tidak mau menjadi raja itu.
Namun akhirnya Tajimalela dan ketiga anaknya bermusyawarah dan memutuskan Prabu Lembu Agung yang menjadi raja. “Dari Prabu Lembu Agung inilah keluar kata lisan Darma Ngarajaan (hanya sekedar menjadi simbol raja saja, red) yang akhirnya menjadi daerah Darmaraja,” katanya. Kini Makam Prabu Lembu Agung berada di Astana Gede Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja.
Sementara Tajimalela akhirnya bertapa ke Gunung Lingga hingga akhir hayatnya dan makamnya juga berada di puncak Gunung Lingga Desa Cimarga, Kecamatan Cisitu. Kerajaan Sumedang Larang kian maju pesat dan akhirnya memintahkan keraton kerajaanya dari Leuwihideung ke Ciguling Pasanggrahan dan dilanjutkan ke Kutamaya.
Warta, Wisata
Salah satu Cagar budaya dari sekian banyak cagar budaya di Kabupaten Sumedang adalah situs makam Buyut Situraja yang terletak di Rw 2 Desa Situraja Kecamatan Situraja. Tempat ini sangat dikeramatkan oleh masyarakat setempat karena makam tersebut dipercaya sebagai leluhur masyarakat Suturaja.
Makam Buyut Situraja Sumedang Jawa Barat
Seperti dikatakan kepala Desa Situraja Odi Supriadi ketika ditemui Korsum di ruang kerjanya Rabu, (26/1) setiap bulan mulud selalu banyak yang jiarah ke makam tersebut . bukan saja orang Situraja tetapi lebih banyak dari luar kota sepertia Cirebon, Indramayu, Jogyakarta dan kota-kota lain bahkan dari Disbudpar propinsi pernah datang.
Kami merasa heran dan penasaran ketika ada tamu peziarah dari Keraton Jogya dengan berpakaian adat Jawa sekitar 50 meter dari lokasi makam sudah ngagepor berarti sangat dihormatinya. Sehingga kami pun sangat penasaran apa hubungannya Makam keramat ini dengan Keraton Jogya. Tetapi kami pun tidak tahu tentang sejarahnya karena para orang tua yang mengetahui riwayatnya sekarang sudah meninggal, ujar kades.
Semuanya ada empat makam yaitu Buyut Situraja, Embah Buyut merah, Embah Buyut Candra Singa dan Embah Buyut Ageung namun setiap tahun ketika acara ritual hajat lembur sekitar bulsn Agustus-September selalu di fokuskan ke makam Buyut Situraja.
Kami belum tahu apakah sudah ada pengakuan dari pemerintah dalam hal ini Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) atau belum karena belum pernah ada bantuan untuk penataan sekitar situs, tapi kami telah mengajukannya, selama ini yang pernah membantu untuk penataan dari pejiarah. Kalau belum, kami berharap ada pengakuan secara resmi dari pemerintah. Kami dengan pak Camat berencana akan menyusun buku sejarah Situraja sebagai titik tolak hari jadi Kecamatan Situraja.
Ketika di konfirmasikan kepada kepala Bidang Kebudayaan pada Disbudparpora Cucu Sutaryadibrata mengatakan cagar budaya itu harus bermanfaat bagi ilmu pengetahuan serta budaya masyarakat. Untukmengetahui sejarahnya tentunya dari masyarakat setempat yang menentukan, ujar Cucu.
Setelah membuka buku tentang data cagar budaya di Kabupaten Sumedang Cucu pun langsung memperlihatkan data tersebut dan ternyata terlihat jelas bahwa situs itu sudah terdaftar dan diakui oleh pemerintah.
Sumber Media: Korsum.com
Warta
Setelah samapai disana raja dengan didampingi oleh para dayangnya memancing di danau (situ) itu. Tidak lama kemudian, pancingan raja pun berhasil mengenaiikan yang sangat besar sekali, sampai-sampai raja pun tak kuat menahan tarikan dari ikan tersebut. Dan akhirnya, raja pun terjatuh kedanau (situ) yang dalam sehingga patih-patih dan dayang-yangnya pun tidak dapat melakukan apa-apa karena raja sudah tenggelam tak terlihat lagi. Dan di beri namalah daerah danau (situ) itu “SITURAJA“.
Mitos
Uyut merah adalah seorang yang sakti.Semasa hidupnya dia menyukai petasan atau granat. Beliau wafat, dan dimakamkan di Situraja yang terletak di pasar situraja. Makam Uyut Merah juga dipercaya oleh sebagian masyarakat karena ada pesan dari Uyut Merah: “apabila yang mau berziarah ke makam saya harus menyalakan petasan yang besar”.
Sampai sekarang masyarakat yang masih memperayainya masih melaksanakan ritual menyalakan petasan yang besar tepatnya di makam Uyut Merah. Di suatu hari, waktu pembongkaran makam Uyut Merah yang akan digunakan sebagai pasar . Ada kejadian aneh,tiba-tiba hujan angin besar pada saat memindahkan makam Uyut Merah . Akhirnya, masyarakat memutuskan makam itu tidak jadi dipindahkan. Sampai sekarang makam itu masih dianggap makam keramat, dan dilestarikan karena pada setiap lebaran masih banyak orang yang berziarah kemakam uyut merah tersebut.Dongeng
Zaman dahulu, daerah situraja kedatangan seorang Pangerang Sumedanglarang. Dia berkunjung kepada masyarakat dan melihat kehidupan masyarakat khususnya di kampung Cikubang. Selama diperjalanan, Pangeran samapai di kampung pamulihan, Pangeran diberi makan oleh masyarakat Pamulihan kebetulan disuguhi sambel,lalapan dll.
Lalu Pangeran bilang: “Sambalnya enak sekali”
Dan sampai sekarang yang namanya sambel Pamulihan itu yang beredar dimasyarakat rasanya enak.
Lalu setelah itu Pangeran melanjutkan perjalanan dengan patih-patihnya sampai di kampung Cikubang.
Petani itu menjawab: “Sedang mengambil mangga .”
Berhubungan petani itu pelit, Pangeran yang meminta mangga itu tidak diberi.
Dan Pangeran berkata: “Mangga disini mah luarnya bagus, tapi dalamnya banyak ulet.”
Sampai sekarang manga dari cikubang dalamnya jelek tapi luarnya bagus. Itu kenyataan yang diucapkan oleh Pangeran Sumedang. Ini sebagian cerita Pangeran Sumedang.
Warta
Warta Lingga Sumedang - Makam Leluhur Kecamatan Situraja
1) Keramat Situraja
Buyut Merah dan Buyut Situraja
Keramat Situ/Cileutik
Dsn.Situraja 03/02 Ds.Situraja-Situraja
Juru kunci :
1.Tayim
2.Dede
2) Dalem Wirakara
Dsn Cikadu 02/02 Ds.Cikadu-Situraja
Juru Kunci :
1.Djamuh
2.Juanda
3) Buyut Ande dan Buyut Bunut
Dsn.Bunut 01/02 Ds.Cijati-Situraja
Juru kunci : Aki Ajum
4) Lingga Taktak
Dsn.Campaka kaler 03/04 Ds.Sunda mekar-Situraja
Juru kunci : Yayat kusumah
5) Mbah Pamelang Luwuk
Dsn.Luwuk 02/04 Ds.Sunda mekar-Situraja
Juru kunci : Ajum
6) Embah Pangkon luwuk
Dsn.luwuk 02/04 Ds.Situraja-Situraja
Juru kunci : Aki Aja
7) Patilasan Nyimas dayang Sumbi dan Sangkuriang
Dusun.Bangbayang 04/08 Ds.Bangbayang - Situraja
Juru kunci :
1.Saripudin
2.Poleng
8) Buyut Cimuncang
Dsn.Cimuncang 02/08 DsSituraja-Situraja
Juru kunci : Sumarta
9) Keramat Tarik Kolot
Dsn mekar mulya 02/03 Ds.Tarik kolot-Situraja
juru kunci : Mista
`
Sumber Babad Sunda
Warta
1) Keramat Cipaku/Cipeueut
· Eyang Prabu Guru Aji Putih
· Ratu inten dewi Nawang wulan
· Prabu Lembu Agung
Iyat Hidayat Dsn. Cipaku 06/01 Desa Cipaku Kec. Darmaraja
2) Eyang Dalem Santapura
Wikarta
Dsn. Ciwangi 11/03 Desa Cibogo Kec. Darmaraja
3) Mbah Dira dan Mbah Djayaningrat
Iri Lesmana Dsn. Lameta 01/02 Desa Leuwi Hideung Kec.
4) Mbah Suta Diangga dan Mbah Djayaningrat
Oding Dsn. Cihideung 03/01Desa Leuwi Hideung Kec. Darmaraja
5) Pangeran Kumendang Dipasinga
1. Dadang
2. Lazimatul Asror
Dsn. Betok 11/02 Desa Sukamenak Kec. Darmaraja
6) Mbah Buyut Mandor Sura
Tanu Dsn. Ciwangi 06/03 Ds. Cibogo Kec. Darmaraja
7) Karamat Gunung Cikari
Jaya kelana Dsn. Cangkuang 02/03 Ds. Neglasari Kec. Darmaraja
8) Buyut Bongkok
Juanda Dsn. Kebontiwu 02/05 Ds. Cibogo Kec.
9) Buyut Paniis
1. Sumarna
2. Adung
Dsn. Paniis 07/09 Ds. Cieunteung Kec. Darmaraja
10) Karamat Gunung Padang
Adang Dsn. Ciparut 02/04 Ds. Cikeusik Kec. Darmaraja
11) Mbah Dalem Santadipura
1. Wikarta
2. Wahyu
Dsn. Betok 01/03 Ds. Sukamenak Kec. Darmaraja
12) Keramat Gunung Penuh
1. Edi
2. Usman
Dsn. Cibarengkok 03/05 Ds. Ranjeng Kec. Darmaraja
13) Keramat Sangkan Jaya
Ruhana Dsn. Cicadas 07/10 Ds. Cipeuteuy Kec. Darmaraja
14) Partilasari Tembong Agung
Radi Dsn. Muhara 01/02 Ds. Leuwi Hideung Kec. Darmaraja
Warta
Warta Lingga Sumedang - Makam Leluhur Kecamatan Buahdua
1) Buyut Kerang
Bp. Salhi Dsn. Sukamulya 02/03 Ds. Citaleus Buahdua
2) Cilumping
Tatang Suhiyat Dsn. Cilumping 02/06 Eyang Candi Karang Ds. Cikurubuk Buahdua
3) Citaman
Enan Dsn. Citaman 03/02 Patilasan Prabu Siliwangi Ds. Bojongloa Buahdua
4) Buyut Hariang
Oom Dsn. Hariang 03/06 Ds. Hariang Buahdua
5) Mata Air Cipanas Cileungsing
Abah Darim Dsn. Cileungsing 15/04
Ds. Cilangkap Buahdua
6) Buyut Rawi
Bp. Kasip Dsn. Gendereh 04/05 Ds. Gendereh Buahdua
7) Pagadean
Itang Dsn. Cigalagah Girang 19/05 Ds. Cilangkap Buahdua
Sumber: Cerita Ki Sunda
Warta
Warta Lingga Sumedang - Makam Leluhur Kecamatan Tanjungkerta Sumedang
1) Gunung Geulis
2) Eyang Kanoman Kawasa
Bp. Dari Dsn. Pangaroan 04/05 Ds. Cipanas Tanjungkerta
3) Embah Santra Pamulang
Bp. Saca Dsn. Caringin 01/02 Ds. Mulya Mekar Tanjungkerta
4) R. Gadung Raja Mantri
H. Mamat Dsn. Parigi 03/04 Tanjung Medar
5) Embah Suci Sahrudin
Emus Dsn. Banceuy 02/03 Ds. Tanjungkerta Kec. Tanjungkerta
6) Embah Juru Tulis
Maman. S Dsn. Banceuy 05/03 Ds. Tanjungkerta Kec. Tanjungkerta
7) Embah Sanca Pamulang
Saca Dsn. Cimuncang 06/03 Tanjungkerta
8) Embah Haji
Suharya Dsn. Cipelah 02/05 Tanjungkerta
9) Embah Sahrudin
Wirya Dsn. Nagrog 01/04 Ds. Cipanas Tanjungkerta
10) Buyut Gede
Abdul Dsn. Gunung Datar 04/05 Ds. Gunung Datar Tanjungkerta
11) Embah Patma Negara
Aki Ucin Dsn. Narogong 07/10 Ds. Gunung Datar Tanjungkerta
12) Embah Komarudin
Yayat Dsn. Cipanas 03/05 Ds. Cipanas Tanjungkerta
13) Eyang Keramat
Bp. Ae Dsn. Nagrog 02/02 Ds. Gunung Datar Tanjungkerta
14) Batu Tapak
Anwar Dsn. Cimanggala 05/06 Ds. Gunung Datar Tanjungkerta
15) Buyut Enong
Wahyu Dsn. Pangaroan 02/03 Ds. Cipanas Tanjungkerta
16) Uyut Indra Kusumah
Encum Dsn. Wanajaya 03/05 Embah Nasir Tanjung Medar
17) Pasir Malang
Ust. Maman Dsn. Gembong Bp. Tatang Ds. Guntur Mekar Tanjungkerta
18) Penenjoan
Lukmanul hakim Dsn. Cigentur 01/01 Ds. Cigentur Tanjungkerta
19) Embah Ranta Wijaya
Ae Sulaeman Dsn. Situbaru 03/02 Ds. Pamekarsari Tanjung Medar
20) Buyut Nur Salid
Tatang Dsn. Cisumur 01/02 Buyut Citeung Ds. Pamekarsari Tanjung Medar
21) Cigalumpit
Ahmad Dsn. Babakan Sukasari 03/03 Ds. Kerta Mekar Tanjungkerta
22) Indra Praja
Bp. Seni Dsn. Wanajaya 01/03 Nana Ds. Wanajaya Tanjung Medar
23) Buyut Sukasari
Ikin Dsn. Sukasari 02/02 Ds. Kerta Mekar Tanjungkerta
Sumber: Cerita Ki Sunda
Sejarah, Warta
Jatinangor sendiri adalah nama blok perkebunan di kaki Gunung Manglayang yang kemudian dijadikan kompleks kampus sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Padjadjaran. Dari Topografische Kaart Blaad L.XXV tahun 1908 dan Blaad H.XXV tahun 1909 yang diterbitkan oleh Topografische Dienst van Nederlands Oost Indie, telah dijumpai nama Jatinangor di tempat yang sekarang juga bernama Jatinangor. Ketika itu, daerah Jatinangor termasuk ke dalam Afdeeling Soemedang, District Tandjoengsari. Nama Cikeruh sendiri diambil dari sungai (CiKeruh) yang melintasi kecamatan tersebut. Pada Peta Rupabumi Digital Indonesia No. 1209-301 Edisi I tahun 2001 Lembar Cicalengka yang diterbitkan oleh Bakosurtanal masih dijumpai nama Kecamatan Cikeruh untuk daerah yang saat ini dikenal sebagai Kecamatan Jatinangor. Pada beberapa dokumen resmi dan setengah resmi saat ini, masih digunakan nama Kecamatan Cikeruh. Kecamatan ini terletak pada koordinat 107o 45' 8,5" 107o 48' 11,0" BT dan 6o 53' 43,3" 6o 57' 41,0" LS. Kode Pos untuk kecamatan ini adalah 45363.
Wilayah Jatinangor memiliki luas + 26,20 Km2 dengan karakteristik wilayah perkotaan hampir 80% dari keseluruhan 12 Desa, meliputi 4 Desa kawasan agraris (Cileles, Cilayung, Jatiroke, Jatimukti), 4 Desa kawasan pendidikan (Hegarmanah, Cikeruh, Sayang, Cibeusi) dan 4 Desa kawasan industri (Cisempur, Cintamulya, Cipacing, Mekargalih).
Sebagaimana daerah lain di kawasan Cekungan Bandung iklim yang berkembang di Jatinangor adalah iklim tropis pegunungan.
Titik terendah di kecamatan ini terletak di daerah Desa Cintamulya setinggi 675 m di atas permukaan laut, sedangkan titik tertingginya terletak di puncak Gunung Geulis setinggi 1.281 m di atas permukaan laut. Sungai-sungai penting di Jatinangor meliputi Ci Keruh, Ci Beusi, Ci Caringin, Ci Leles, dan Ci Keuyeup.
Saat ini Jatinangor dikenal sebagai salah satu kawasan Pendidikan di Jawa Barat. Pencitraan ini merupakan dampak langsung pembangunan kampus beberapa institusi perguruan tinggi di kecamatan ini. Perguruan tinggi yang saat ini memiliki kampus di Jatinangor yaitu:
1. Universitas Padjadjaran (Unpad) di Desa Hegarmanah dan Desa Cikeruh.
2. Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Desa Cibeusi. Sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).
3. Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) di Desa Cibeusi.
4. Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor, dulunya Universitas Winaya Mukti (Unwim) di Desa Sayang.
5. Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Al-Ma'soem di Desa Cipacing
Sedangkan perusahaan/industri skala besar, yaitu :
2. Polypin Canggih (terletak di Desa Cipacing)
3. Insan Sandang (terletak di Desa Mekargalih)
4. Wiska (terletak di Desa Cipacing)
Seiring dengan hadirnya bangunan kampus dan pabrik tersebut, Jatinangor juga mengalami perkembangan fisik yang pesat. Sebagaimana halnya yang menimpa lahan pertanian lain di Pulau Jawa, banyak lahan pertanian di Jatinangor yang beralih fungsi menjadi kosan untuk mahasiswa ataupun tempat perbelanjaan. Salah satu yang terkenal saat ini yaitu pusat perbelanjaan Jatinangor Town Square (JATOS) dan Plaza Pajajaran.
Beberapa objek penting yang ada di Jatinangor antara lain meliputi objek bersejarah dan objek pariwisata. Objek bersejarah tersebut berupa Menara Loji di kampus ITB dan jembatan Cikuda yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan jembatan cincin. Dulu jembatan tersebut digunakan sebagai jembatan rel kereta yang menghubungkan jalur kereta dari arah Tanjungsari ke Rancaekek
Menara jam, yang sering disebut Menara Loji oleh masyarakat sekitar itu dibangun sekitar tahun 1800-an. Menara tersebut pada mulanya berfungsi sebagai sirene yang berbunyi pada waktu-waktu tertentu sebagai penanda kegiatan yang berlangsung di perkebunan karet milik Baron Baud. Bangunan bergaya Neo gothic ini dulunya berbunyi tiga kali dalam sehari. Pertama, pukul 05.00 sebagai penanda untuk mulai menyadap karet; pukul 10.00 sebagai penanda untuk mengumpulkan mangkok-mangkok getah karet; dan terakhir pukul 14.00 sebagai penanda berakhirnya kegiatan produksi karet.
Baron Baud adalah seorang pria berkebangsaan Jerman yang menanamkan modal bersama perusahaan swasta milik Belanda dan pada tahun 1841 mendirikan perkebunan karet bernama Cultuur Ondernemingen van Maatschapij Baud yang luas tanahnya mencapai 962 hektar. Perkebunan karet ini membentang dari tanah IPDN hingga Gunung Manglayang.
Sekira tahun 1980-an lonceng Menara Loji dicuri dan hingga kini kasusnya masih belum jelas; baik mengenai pencurinya, apa motifnya, dan bagaimana tindak lanjut dari pihak berwenang. Bahkan Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang selaku pihak yang seharusnya mengawasi pemeliharaan cagar budaya pun tidak tahu-menahu mengenai kelanjutan kisah pencurian itu. Saat ini Menara Loji nampak tidak terurus. Perawatan terakhir menara ini berupa pengecatan ulang yang dilakukan oleh pihak Rumah Tangga Unwim pada tahun 2000.
Jembatan di Cikuda yang sering disebut sebagai Jembatan Cincin oleh masyarakat sekitar pada mulanya dibangun sebagai penunjang lancarnya kegiatan perkebunan karet. Jembatan Cincin dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda yang bernama Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1918. Jembatan ini berguna untuk membawa hasil perkebunan; dan pada masanya, jembatan ini menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat.
Sebagaimana halnya dengan Menara Loji, tidak ada satupun instansi yang mau menangani perawatan jembatan bersejarah ini. Baik Pemda Sumedang maupun PT KAI (Kereta Api Indonesia), dua pihak yang cukup berkepentingan dengan Jembatan Cincin, menyatakan bahwa pemeliharaan Jembatan Cincin tidak termasuk dalam tanggungjawabnya. Menurut PT KAI, jembatan ini tidak pernah diperbaiki karena sudah tidak digunakan lagi. Sedangkan menurut Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Pemda Sumedang, perawatan bangunan bersejarah tidak termasuk dalam tanggung jawab dinas tersebut karena dinas ini hanya bertugas memperhatikan dan membina nilai-nilai budaya.
Objek pariwisata di Jatinangor antara lain meliputi Bumi Perkemahan Kiara Payung dan Bandung Giri Gahana (Golf and Resor). Walaupun demikian, sebenarnya sebagian besar tanah Bumi Perkemahan Kiara Payung terletak dalam wilayah Kecamatan Sukasari. Selain itu, Jalan Raya Jatinangor sepanjang 4,83 km yang menghubungkan Bandung dengan Sumedang merupakan penggalan dari De Groote Postweg (Jalan Raya Pos) yang dibuat oleh Herman Willem Daendels pada tahun 1808.
Sumber Media: Jatinangor.com
Sumedang, Warta
Sumedang, Warta
Warta Lingga Sumedang, Setiap daerah selalu memiliki ciri khasnya tersendiri, mulai dari kulinernya, budayanya, hingga bahasanya. Salah satunya adalah Kota Sumedang yang terkenal dengan kuliner tahunya. Tapi, sebenarnya enggak cuman tahunya saja loh yang terkenal, Sobat Djadeol. Kota yang terletak di sebelah timur kota Bandung ini juga ternyata terkenal dengan kesenian kuda renggongnya, juga dengan ubi cilembunya yang sangat manis.Nah, jika kita berkeliling kota Sumedang, selain menemukan makanan dan kesenian ciri khasnya itu, kalian juga akan menemukan beberapa bangunan bersejarah peninggalan zaman Belanda. Salah satunya bangunan yang telah menjadi saksi sejarah pada zaman Belanda adalah monumen Lingga atau ada juga yang menyebutnya dengan Tugu Lingga.
Monumen yang berada tepat di tengah alun-alun kota Sumedang ini dibangun sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa Bupati Sumedang kala itu, yakni Pangeran Aria Suria Atmadja. Karena beliau dianggap sangat berjasa dalam mengembangkan kota Sumedang di berbagai bidang, seperti pertanian, perikanan, kehutanan, peternakan, kesehatan, pendidikan dan banyak bidang lainnya. Beliau memerintah di kota Sumedang dari tahun 1883 sampai 1919. Beliau wafat di Mekah ketika sedang melaksanakan ibadah haji pada 1 Juni 1921.
Monumen Lingga sendiri dibangun oleh Pangeran Siching dari Belanda pada tahun 1922 yang kemudian diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu Mr. Dirk Fock, yaitu pada 22 Juli 1922. Pada saat peresmian monumen ini ikut hadir bupati Sumedang yang menggantikan Pangeran Aria Suria Atmadja, yakni Tumenggung Kusumadilaga dan beberapa pejabat Hindia Belanda dan tentunya orang-orang pribumi.
Monumen yang menjadi landmark Kota Sumedang ini merupakan bangunan permanen. Bagian dasar bangunan ini berbentuk bujur sangkar dan dilengkapi dengan sejumlah anak tangga serta pagar disetiap sisinya. Sedangkan bangunan utamanya berupa kubus yang sedikit melengkung disetiap sudut bagian atasnya. Pada bagian ini terdapat sebuah pintu yang dulu digunakan untuk memasukan barang, karena pada zaman dulu monumen ini digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang peninggalan bupati terdahulu.
Namun, sekarang semua barang yang tadinya disimpan di dalam monumen ini sudah dipindahkan ke Museum Prabu Geusan Ulun. Sedangkan dibagian paling atas monumen ini terdapat bangunan setengah lingkaran yang mirip dengan kubah masjid. Menurut beberapa sumber, ternyata kubah ini merupakan tempat pengambilan barang-barang dari dalam Monumen Lingga, karena sebenarnya kubah ini memiliki kunci dan bisa dibuka.
Monumen Lingga merupakan bangunan unik yang dibangun pada zamannya, karena pada saat itu seorang penguasa lebih sering membangun Tugu atau Prasasti untuk mengenang suatu hal. Karena keunikan dan sejarahnya, tak heran jika monumen ini dijadikan sebagai lambang resmi Kabupaten Sumedang.
Sebagai peninggalan sejarah masa silam dan landmark kebanggaan masyarakat Sumedang, sudah selayaknya Monumen Lingga ini selalu dijaga oleh kita semua, terutama oleh warga Sumedang. Jangan sampai monumen ini terabaikan hingga hancur seperti monumen lainnya. Karena setiap monumen mampu mengingatkan kita akan sejarah masa lalu yang bisa kita petik pelajaran di dalamnya.
Sejarah, Warta
Kata Sumedang berasal dari “inSUn MEdal insun maDANGan”, Insun artinya saya Medal artinya lahir Madangan artinya memberi penerangan jadi kata Sumedang bisa berarti “Saya lahir untuk memberi penerangan”. Kalimat “Insun Medal Insun Madangan” terucap ketika Prabu Tajimalela raja Sumedang Larang I melihat ketika langit menjadi terang-benderang oleh cahaya yang melengkung mirip selendang (malela) selama tiga hari tiga malam. Kata Sumedang dapat juga diambil juga dari kata Su yang berarti baik atau indah dan Medang adalah nama sejenis pohon, Litsia Chinensis sekarang dikenal sebagai pohon Huru, dulu pohon medang banyak tumbuh subur di dataran tinggi sampai ketinggi 700 m dari permukaan laut seperti halnya Sumedang merupakan dataran tinggi.
II. ASAL MULA SUMEDANG
Asal mula Sumedang berasal dari Kerajaan Tembong Agung yang didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih ( 678 – 721 M ) putra Aria Bima Raksa / Ki Balagantrang Senapati Galuh cucu dari Wretikandayun pendiri Kerajaan Galuh. Kerajaan Tembong Agung berada di Citembong Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja. Pada masa Prabu Tajimalela ( 721 – 778 M ) putra dari Guru Aji Putih di bekas Kerajaan Tembong Agung didirikan Kerajaan Sumedang Larang. Sumedang Larang berarti tanah luas yang jarang bandingnya” (Su= bagus, Medang = luas dan Larang = jarang bandingannya).
Masa kejayaan Sumedang Larang pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601 M) ketika pada masa pemerintahan Pangeran Santri / Pangeran Kusumahdinata I raja Sumedang Larang ke-8 ayah dari Prabu Geusan Ulun pada tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedang Larang Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghiang Hawu atauJaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nganganan), Sangiang Kondanghapa, dan Batara Pancar BuanaTerong Peot membawa pusaka Pajajaran dan alas parabon untuk di serahkan kepada penguasa Sumedang Larang pada waktu itu dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya / Pangeran Kusumadinata II dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda Padjajaran dan Raja Sumedang Larang ke-9. Ketika dinobatkan sebagai raja Prabu Geusan Ulun berusia + 23 tahun menggantikan ayahnya Pangeran Santri yang telah tua dan pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Sakakala atau tanggal 8 Mei 1579 M kerajaan Pajajaran “Sirna ing bumi” Ibukota Padjajaran jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Surasowan Banten
Yang akhirnya Sumedang mewarisi wilayah bekas wilayah Padjajaran dengan wilayahnya meliputi seluruh Padjajaran sesudah 1527 masa Prabu Prabu Surawisesa dengan batas meliputi; Sungai Cipamali (daerah Brebes sekarang) di sebelah timur, Sungai Cisadane di sebelah barat, Samudra Hindia sebelah Selatan dan Laut Jawa sebelah utara. Daerah yang tidak termasuk wilayah Sumedang Larang yaitu Kesultanan Banten, Jayakarta dan Kesultanan Cirebon. Dilihat dari luas wilayah kekuasaannya, wilayah Sumedang Larang dulu hampir sama dengan wilayah Jawa Barat sekarang tidak termasuk wilayah Banten dan Jakarta kecuali wilayah Cirebon sekarang menjadi bagian Jawa Barat. sehingga Prabu Geusan Ulun mendapat restu dari 44 penguasa daerah Parahiyangan yang terdiri dari 26 Kandaga Lante, Kandaga Lante adalah semacam Kepala yang satu tingkat lebih tinggi dari pada Cutak (Camat) dan 18 Umbul dengan cacah sebanyak + 9000 umpi. Pemberian pusaka Padjajaran pada tanggal 22 April 1578 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadinya Kabupaten Sumedang.
Peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai Cakrawarti atau Nalendra merupakan kebebasan Sumedang untuk mengsejajarkan diri dengan kerajaan Banten dan Cirebon. Arti penting yang terkandung dalam peristiwa itu ialah pernyataan bahwa Sumedang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran di Bumi Parahiyangan. Pusaka Pajajaran dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh Senapati Jaya Perkosa dari Pakuan dengan sendirinya dijadikan bukti dan alat legalisasi keberadaan Sumedang, sama halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak dan Mataram.
III. DARI MASA KERAJAAN KE MASA KABUPATEN
Pada tahun 1601 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Pangeran Aria Soeriadiwangsa, pada masa Aria Soeriadiwangsa kekuasaan Sumedang Larang di daerah sudah menurun dan Mataram melakukan perluasan wilayah ke segala penjuru tanah air termasuk ke Sumedang. Pada waktu itu Sumedang Larang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan yang akhirnya Pangeran Aria Soeriadiwangsa pergi ke Mataram untuk menyatakan Sumedang menjadi bagian wilayah Mataram pada tahun 1620. Wilayah bekas kerajaan Sumedang Larang diganti nama menjadi Priangan yang berasal dari kata “Prayangan” yang berarti daerah yang berasal dari pemberian yang timbul dari hati yang ikhlas dan Pangeran Aria Soeriadiwangsa diangkat menjadi Bupati Sumedang pertama dan diberi gelar Rangga Gempol I (1601 – 1625 M). Sumedang menjadi bagian dari wilayah Mataram karena Pangeran Aria Soeriadiwangsa I mengganggap:
1. Sumedang sudah lemah dari segi kemiliteran,
2. menghindari serangan dari Mataram karena waktu itu Mataram memperluas wilayah kekuasaannya dari segi kekuatan Mataram lebih kuat daripada Sumedang dan
3. menghindari pula serangan dari Cirebon dan VOC. Sultan Agung kemudian membagi-bagi wilayah Priangan menjadi beberapa Kabupaten yang masing-masing dikepalai seorang Bupati, untuk koordinasikan para bupati diangkat seorang Bupati Wadana. Pangeran Rangga Gempol I adalah Bupati Sumedang yang merangkap sebagai Bupati Wadana Priangan pertama (1601 – 1625 M).
Yang akhirnya wilayah Sumedang Larang pada masa Prabu Geusan Ulun menjadi wilayah Sumedang sekarang. Berakhirlah sudah kerajaan Sunda terakhir Sumedang Larang di Jawa Barat Sumedang memasuki era baru yaitu Kabupaten pada tahun 1620 sampai sekarang. Sejak menjadi Kabupaten, Bupati yang memimpin Sumedang sampai tahun 1949 merupakan keturunan langsung dari Prabu Geusan Ulun (lihat masa pemerintahan) tetapi pada tahun 1773 – 1791 yang menjadi Bupati Sumedang adalah Bupati penyelang / sementara dari Parakan Muncang. Menggantikan putra Bupati Surianagara II yang belum menginjak dewasa Rd. Djamu atau terkenal sebagai Pangeran Kornel.
| No. | NAMA TEMPAT | TAHUN | MASA PEMERINTAHAN | KETERANGAN |
| 1. | Tembong Agung – Leuwi Hideung Darmaraja | 678 – 893 | - Prabu Guru Aji Putih
- Prabu Tajimalela.
- Prabu Lembu Agung
| - Raja Tembong Agung.
- Raja Sumedang Larang 1
- Raja Sumedang Larang 2
|
| 2. | Ciguling – Pasanggrahan Sumedang Selatan | 893 – 1530 | - Prabu Gajah Agung.
- Prabu Pagulingan.
- Sunan Guling.
- Prabu Tirtakusumah.
- Nyi Mas Patuakan
| - Raja Sumedang Larang 3
- Raja Sumedang Larang 4
- Raja Sumedang Larang 5
- Raja Sumedang Larang 6
- Raja Sumedang Larang 7
|
| 3. | Kutamaya – Padasuka | 1530 – 1578 | Ratu Pucuk Umum/Pangeran Santri | - Raja Sumedang Larang 8 |
| 4. | Dayeuh Luhur – Ganeas | 1578 – 1601 | Prabu Geusan Ulun | - Raja Sumedang Larang 9 |
| No. | NAMA TEMPAT | TAHUN | MASA PEMERINTAHAN |
| 1. | Tegal Kalong – Sumedang Utara | 1601 – 1625 | Rangga Gempol I. |
| 2. | Canukur Sukatali – Situraja | 1601 – 1625 | Rangga Gede |
| 3. | Parumasan | 1625 – 1633 | Rangga Gede. |
| 4. | Tenjo Laut Cidudut – Conggeang | 1633 – 1656 | Rangga Gempol II |
| 5. | Sulambitan – Sumedang Selatan | 1656 – 1706 | Pangeran Panembahan |
| 6. | Regol Wetan – Sumedang Selatan | 1706 – sekarang | Dalem Adipati Tanumadja |
SEJARAH MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN
Awal berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun, diawali berdirinya “Yayasan Pangeran Aria Soeria Atmadja (YAPASA)”, yayasan yang mengurus, memelihara dan mengelola barang – barang wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja Bupati Sumedang 1882 – 1919. Untuk melestarikan benda – benda wakaf tersebut YAPASA merencanakan untuk mendirikan Museum. Pada tahun 1973 YAPASA berubah nama menjadi Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) dan didirikan sebuah Museum yang bernama Museum Yayasan Pangeran Sumedang yang pada mulanya dibuka hanya untuk di lingkungan para wargi keturunan dan seketurunan Leluhur Pangeran Sumedang.
Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk mengganti nama Museum YPS. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun” YPPS.
Gedung pertama yang dipakai sebagai Museum adalah Gedung Gendeng.
Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk memberi nama Museum YPS yang disampaikan pada forum Seminar Sejarah Jawa Barat. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun”
















