Warta Lainnya »

Berita Lainnya »

    Warta Lingga Sumedang, Banyak kesalah-pahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam al-Qur’an surah An-Nuur [24]: 31 disebut dengan istilah khimar (jamaknya: khumur), bukan jilbab. Adapun jilbab yang terdapat dalam surah al-Ahzab [33]: 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.

    Kesalah-pahaman lain yang sering dijumpai adalah anggapan bahwa busana muslimah itu yang penting sudah menutup aurat, sedang mode baju apakah terusan atau potongan, atau memakai celana panjang, dianggap bukan masalah. Dianggap, model potongan atau bercelana panjang jeans oke-oke saja, yang penting ‘kan sudah menutup aurat. Kalau sudah menutup aurat, dianggap sudah berbusana muslimah secara sempurna. Padahal tidak begitu. Islam telah menetapkan syarat-syarat bagi busana muslimah dalam kehidupan umum, seperti yang ditunjukkan oleh nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah.

    Menutup aurat itu hanya salah satu syarat, bukan satu-satunya syarat busana dalam kehidupan umum. Syarat lainnya misalnya busana muslimah tidak boleh menggunakan bahan tekstil yang transparan atau mencetak lekuk tubuh perempuan. Dengan demikian, walaupun menutup aurat tapi kalau mencetak tubuh alias ketat atau menggunakan bahan tekstil yang transparan tetap belum dianggap busana muslimah yang sempurna.

    Karena itu, kesalahpahaman semacam itu perlu diluruskan, agar kita dapat kembali kepada ajaran Islam secara murni serta bebas dari pengaruh lingkungan, pergaulan, atau adat-istiadat rusak di tengah masyarakat sekuler sekarang. Memang, jika kita konsisten dengan Islam, terkadang terasa amat berat. Misalnya saja memakai jilbab (dalam arti yang sesungguhnya). Di tengah maraknya berbagai mode busana wanita yang diiklankan trendi dan up to date, jilbab secara kontras jelas akan kelihatan ortodoks, kaku, dan kurang trendi (dan tentu, tidak seksi). Padahal, busana jilbab itulah pakaian yang benar bagi muslimah.

    Di sinilah kaum muslimah diuji. Diuji imannya, diuji taqwanya. Di sini dia harus memilih, apakah dia akan tetap teguh mentaati ketentuan Allah dan Rasul-Nya, seraya menanggung perasaan berat hati namun berada dalam keridhaan Allah, atau rela terseret oleh bujukan hawa nafsu atau rayuan syaitan terlaknat untuk mengenakan mode-mode liar yang dipropagandakan kaum kafir dengan tujuan agar kaum muslimah terjerumus ke dalam limbah dosa dan kesesatan.

    Berkaitan dengan itu, Nabi Saw pernah bersabda bahwa akan tiba suatu masa di mana Islam akan menjadi sesuatu yang asing , termasuk busana jilbab, sebagaimana awal kedatangan Islam. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak boleh larut. Harus tetap bersabar, dan memegang Islam dengan teguh, walaupun berat seperti memegang bara api. Dan insya Allah, dalam kondisi yang rusak dan bejat seperti ini, mereka yang tetap taat akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Bahkan dengan pahala lima puluh kali lipat daripada pahala para shahabat. Sabda Nabi Saw :

    “Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” [HR. Muslim no. 145].

    “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata, “Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah Saw menjawab, “Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” [HR. Abu Dawud, dengan sanad hasan].



    Aurat Dan Busana Muslimah
    Ada 3 (tiga) masalah yang sering dicampuradukkan yang sebenarnya merupakan masalah-masalah yang berbeda-beda.

    - Pertama, masalah batasan aurat bagi wanita.
    - Kedua, busana muslimah dalam kehidupan khusus (al hayah al khashshash), yaitu tempat-tempat di mana wanita hidup bersama mahram atau sesama wanita, seperti rumah-rumah pribadi, atau tempat kost.
    - Ketiga, busana muslimah dalam kehidupan umum (al hayah ‘ammah), yaitu tempat-tempat di mana wanita berinteraksi dengan anggota masyarakat lain secara umum, seperti di jalan-jalan, sekolah, pasar, kampus, dan sebagainya. Busana wanita muslimah dalam kehidupan umum ini terdiri dari jilbab dan khimar.

    a. Batasan Aurat Wanita
    Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Lehernya adalah aurat, rambutnya juga aurat bagi orang yang bukan mahram, meskipun cuma selembar. Seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah SWT:

    “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

    Yang dimaksud “wa laa yubdiina ziinatahunna” (janganlah mereka menampakkan perhiasannya), adalah “wa laa yubdiina mahalla ziinatahinna” (janganlah mereka menampakkan tempat-tempat (anggota tubuh) yang di situ dikenakan perhiasan) (Lihat Abu Bakar Al-Jashshash, Ahkamul Qur’an, juz III, hal. 316).

    Selanjutnya, “illa maa zhahara minha” (kecuali yang (biasa) nampak dari padanya). Jadi ada anggota tubuh yang boleh ditampakkan. Anggota tubuh tersebut, adalah wajah dan dua telapak tangan. Demikianlah pendapat sebagian shahabat, seperti ‘Aisyah, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar (Al-Albani, 2001 : 66). Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H) berkata dalam kitab tafsirnya Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, juz XVIII, hal. 84, mengenai apa yang dimaksud dengan “kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (illaa maa zhahara minha): “Pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah yang mengatakan, ‘Yang dimaksudkan adalah wajah dan dua telapak tangan’.” Pendapat yang sama juga dinyatakan Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, juz XII, hal. 229 (Al-Albani, 2001 : 50 & 57).

    Jadi, yang dimaksud dengan apa yang nampak dari padanya adalah wajah dan dua telapak tangan. Sebab kedua anggota tubuh inilah yang biasa nampak dari kalangan muslimah di hadapan Nabi Saw sedangkan beliau mendiamkannya. Kedua anggota tubuh ini pula yang nampak dalam ibadah-ibadah seperti haji dan shalat. Kedua anggota tubuh ini biasa terlihat di masa Rasulullah Saw, yaitu di masa masih turunnya ayat al-Qur’an (An-Nabhani, 1990 : 45). Di samping itu terdapat alasan lain yang menunjukkan bahwasanya seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangan karena sabda Rasulullah Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar :

    “Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud].

    Inilah dalil-dalil yang menunjukkan dengan jelas bahwasanya seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Maka diwajibkan atas wanita untuk menutupi auratnya, yaitu menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.

    b. Busana Muslimah Dalam Kehidupan Khusus
    Adapun dengan apa seorang muslimah menutupi aurat tersebut, maka di sini syara’ tidak menentukan bentuk/model pakaian tertentu untuk menutupi aurat, akan tetapi membiarkan secara mutlak tanpa menentukannya dan cukup dengan mencantumkan lafadz dalam firman-Nya (Qs. an-Nuur [24]: 31) “wa laa yubdiina” (Dan janganlah mereka menampakkan) atau sabda Nabi Saw “lam yashluh an yura minha” (tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya) [HR. Abu Dawud]. Jadi, pakaian yang menutupi seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan dianggap sudah menutupi, walau bagaimana pun bentuknya. Dengan mengenakan daster atau kain yang panjang juga dapat menutupi, begitu pula celana panjang, rok, dan kaos juga dapat menutupinya. Sebab bentuk dan jenis pakaian tidak ditentukan oleh syara’.

    Berdasarkan hal ini maka setiap bentuk dan jenis pakaian yang dapat menutupi aurat, yaitu yang tidak menampakkan aurat dianggap sebagai penutup bagi aurat secara syar’i, tanpa melihat lagi bentuk, jenis, maupun macamnya.

    Namun demikian syara’ telah mensyaratkan dalam berpakaian agar pakaian yang dikenakan dapat menutupi kulit. Jadi pakaian harus dapat menutupi kulit sehingga warna kulitnya tidak diketahui. Jika tidak demikian, maka dianggap tidak menutupi aurat. Oleh karena itu apabila kain penutup itu tipis/transparan sehingga nampak warna kulitnya dan dapat diketahui apakah kulitnya berwarna merah atau coklat, maka kain penutup seperti ini tidak boleh dijadikan penutup aurat.

    Mengenai dalil bahwasanya syara’ telah mewajibkan menutupi kulit sehingga tidak diketahui warnanya, adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwasanya Asma’ binti Abubakar telah masuk ke ruangan Nabi Saw dengan berpakaian tipis/transparan, lalu Rasulullah Saw berpaling seraya bersabda :

    “Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) tidak boleh baginya untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini.” [HR. Abu Dawud].

    Jadi Rasulullah Saw menganggap kain yang tipis itu tidak menutupi aurat, malah dianggap menyingkapkan aurat. Oleh karena itu lalu Nabi Saw berpaling seraya memerintahkannya menutupi auratnya, yaitu mengenakan pakaian yang dapat menutupi.

    Dalil lainnya juga terdapat dalam hadits riwayat Usamah bin Zaid, bahwasanya ia ditanyai oleh Nabi Saw tentang Qibtiyah (baju tipis) yang telah diberikan Nabi Saw kepada Usamah. Lalu dijawab oleh Usamah bahwasanya ia telah memberikan pakaian itu kepada isterinya, maka Rasulullah Saw bersabda kepadanya:

    “Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu, karena sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya.” [HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, dengan sanad hasan. Dikeluarkan oleh Adh-Dhiya’ dalam kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah, juz I, hal. 441] (Al-Albani, 2001 : 135).

    Qibtiyah adalah sehelai kain tipis. Oleh karena itu tatkala Rasulullah Saw mengetahui bahwasanya Usamah memberikannya kepada isterinya, beliau memerintahkan agar dipakai di bagian dalam kain supaya tidak kelihatan warna kulitnya dilihat dari balik kain tipis itu, sehingga beliau bersabda: “Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu.”

    Dengan demikian kedua hadits ini merupakan petunjuk yang sangat jelas bahwasanya syara’ telah mensyaratkan apa yang harus ditutup, yaitu kain yang dapat menutupi kulit. Atas dasar inilah maka diwajibkan bagi wanita untuk menutupi auratnya dengan pakaian yang tidak tipis sedemikian sehingga tidak tergambar apa yang ada di baliknya.


    c. Busana Muslimah Dalam Kehidupan Umum
    Pembahasan poin b di atas adalah topik mengenai penutupan aurat wanita dalam kehidupan khusus. Topik ini tidak dapat dicampuradukkan dengan pakaian wanita dalam kehidupan umum, dan tidak dapat pula dicampuradukkan dengan masalah tabarruj pada sebagian pakaian-pakaian wanita.

    Jadi, jika seorang wanita telah mengenakan pakaian yang menutupi aurat, tidak berarti lantas dia dibolehkan mengenakan pakaian itu dalam kehidupan umum, seperti di jalanan umum, atau di sekolah, pasar, kampus, kantor, dan sebagainya. Mengapa? Sebab untuk kehidupan umum terdapat pakaian tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’. Jadi dalam kehidupan umum tidaklah cukup hanya dengan menutupi aurat, seperti misalnya celana panjang, atau baju potongan, yang sebenarnya tidak boleh dikenakan di jalanan umum meskipun dengan mengenakan itu sudah dapat menutupi aurat.

    Seorang wanita yang mengenakan celana panjang atau baju potongan memang dapat menutupi aurat. Namun tidak berarti kemudian pakaian itu boleh dipakai di hadapan laki-laki yang bukan mahram, karena dengan pakaian itu ia telah menampakkan keindahan tubuhnya (tabarruj). Tabarruj adalah, menempakkan perhiasan dan keindahan tubuh bagi laki-laki asing/non-mahram (izh-haruz ziinah wal mahasin lil ajaanib) (An-Nabhani, 1990 : 104). Oleh karena itu walaupun ia telah menutupi auratnya, akan tetapi ia telah bertabarruj, sedangkan tabarruj dilarang oleh syara’.

    Pakaian wanita dalam kehidupan umum ada 2 (dua), yaitu baju bawah (libas asfal) yang disebut dengan jilbab, dan baju atas (libas a’la) yaitu khimar (kerudung). Dengan dua pakaian inilah seorang wanita boleh berada dalam kehidupan umum, seperti di kampus, supermarket, jalanan umum, kebun binatang, atau di pasar-pasar.

    Apakah pengertian jilbab? Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo : Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar’ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

    Jadi jelaslah, bahwa yang diwajibkan atas wanita adalah mengenakan kain terusan (dari kepala sampai bawah) (Arab: milhafah/mula`ah) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah, seperti daster, tidak langsung pakaian dalam) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya.

    Untuk baju atas, disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada. Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum (An-Nabhani, 1990 : 48).

    Apabila ia telah mengenakan kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar) dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju pasar atau berjalan melalui jalanan umum, yaitu menuju kehidupan umum. Akan tetapi jika ia tidak mengenakan kedua jenis pakaian ini maka dia tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun, sebab perintah yang menyangkut kedua jenis pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya dalam seluruh keadaan, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

    Dalil mengenai wajibnya mengenakan dua jenis pakaian ini, karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bagian atas (khimar/kerudung) :

    “Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

    Dan karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bawah (jilbab) :

    “Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.” (Qs. al-Ahzab [33]: 59).

    Adapun dalil bahwa jilbab merupakan pakaian dalam kehidupan umum, adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah r.a., bahwa dia berkata :

    “Rasulullah Saw memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata, ‘Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?’ Maka Rasulullah Saw menjawab: ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!” [Muttafaqun ‘alaihi] (Al-Albani, 2001 : 82).

    Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, juz I, hal. 388, mengatakan: “Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar (rumah) jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).

    Dalil-dalil di atas tadi menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum. Allah SWT telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat di atas yang telah diwajibkan atas wanita agar dikenakan dalam kehidupan umum dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh. Kewajiban ini dipertegas lagi dalam hadits dari Ummu ‘Athiah r.a. di atas, yakni kalau seorang wanita tak punya jilbab, untuk keluar di lapangan sholat Ied (kehidupan umum),  maka dia harus meminjam kepada saudaranya (sesama muslim). Kalau tidak wajib, niscaya Nabi Saw tidak akan memerintahkan wanita mencari pinjaman jilbab.

    Untuk jilbab, disyaratkan tidak boleh potongan, tetapi harus terulur sampai ke bawah sampai menutup kedua kaki, sebab Allah SWT mengatakan: “yudniina ‘alaihinna min jalabibihinna” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka).

    Dalam ayat tersebut terdapat kata “yudniina” yang artinya adalah yurkhiina ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Penafsiran ini yaitu idnaa’ berarti irkhaa’ ila asfal— diperkuat dengan dengan hadits Ibnu Umar bahwa dia berkata, Rasulullah Saw telah bersabda :

    “Barang siapa yang melabuhkan/menghela bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata,’Lalu apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi dzuyulihinna).” Nabi Saw menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya (yurkhiina) sejengkal (syibran)’ (yakni dari separoh betis). Ummu Salamah menjawab, ‘Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi menjawab, ‘Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (fa yurkhiina dzira`an) dan jangan mereka menambah lagi dari itu.” [HR. At-Tirmidzi, juz III, hal. 47; hadits sahih] (Al-Albani, 2001 : 89).

    Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi Saw, pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah yaitu jilbab telah diulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.

    Berarti jilbab adalah terusan, bukan potongan. Sebab kalau potongan, tidak bisa terulur sampai bawah. Atau dengan kata lain, dengan pakaian potongan seorang wanita muslimah dianggap belum melaksanakan perintah “[/i]yudniina ‘alaihinna min jalaabibihina[/i]” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya). Di samping itu kata min dalam ayat tersebut bukan min lit tab’idh (yang menunjukkan arti sebagian) tapi merupakan min lil bayan (menunjukkan penjelasan jenis). Jadi artinya bukanlah “Hendaklah mereka mengulurkan sebagian jilbab-jilbab mereka” (sehingga boleh potongan), melainkan Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (sehingga jilbab harus terusan) (An-Nabhani, 1990 : 45-51).

    Dari penjelasan di atas jelas bahwa wanita dalam kehidupan umum wajib mengenakan baju terusan yang longgar yang terulur sampai ke bawah yang dikenakan di atas baju rumah mereka. Itulah yang disebut dengan jilbab dalam al-Qur’an.

    Jika seorang wanita muslimah keluar rumah tanpa mengenakan jilbab seperti itu, dia telah berdosa, meskipun dia sudah menutup auratnya. Sebab mengenakan baju yang longgar yang terulur sampai bawah adalah fardlu hukumnya. Dan setiap pelanggaran terhadap yang fardlu dengan sendirinya adalah suatu penyimpangan dari syariat Islam di mana pelakunya dipandang berdosa di sisi Allah.

    Setelah ia membaca dan memahami betul wacana diatas,  kita fahamlah bahwa ternyata menutup aurat adalah suatu kewajiban bagi setiap wanita muslim yang telah baligh (dewasa). Ia pun juga menyadari bahwa ternyata apa yang dilakukan di dunia ini kelak di hari pembalasan akan dimintai pertangungjawabannya, tak luput juga dengan pertangungjawaban menutup aurat. Seusai memahami tulisan ini ia bergegas tuk berusaha dan bersegera tuk mencari pinjaman jilbab dan kerudung.Muski sebenarnya ia masih berat untuk melakukannya, tapi inilah bentuk konsekwensi keimanan kita terhadap Allah SWT. Semoga kita bisa tetep terus istiqomah di jalan-NYA tuk menerapkan perintah-perintah Allah SWT di muka bumi ini. Aamiin

    Sumber Media: MTsN Ujungjaya Sumedang


    ,

    Warta Lingga Sumedang, Warta Lingga Sumedang - Di Sumedang hampir seluruh toko atau butik pakaian, sebagian besar produknya adalah busana muslim syar'i lengkap dengan jilbabnya.  Mulai dari toko kelontongan di pasar sumedang, toko-toko retail jilbab di kota Sumedang hingga toko besar seperti: Griya Busana, Rabbani Sumedang dengan bermacam-macam merek dan corak baju gamis, hijab dan Jilbab.

    Busana  yang paling diminati adalah hijab atau gamis syar'i, dengan berbagai macam corak dan model.

    Busana ini dibandrol dengan harga cukup mahal karena dibuat dengan bahan sangat nyaman. Harga menengah terbuat dari bahan tak terlalu nyaman yang dapat menimbulkan rasa gerah, panas, atau pergerakan menjadi kaku.
    Bahan yang nyaman yaitu menimbulkan rasa dingin, teduh, dan lembut di kulit menjadi hal yang mutlak dalam pembuatan busana ini. Faktor ini jugalah yang justru membuat busana ini digemari banyak orang.

    Bahan terbaik adalah kain korea yang sangat lembut dan jatuh di badan. Modelnya yang syar'i tidak membuat badan gerah atau terbatasi gerakannya. Tapi malah menjadi rapi, anggun dan cantik.

    Meski demikian, Linda membuat beberapa busana lain dengan bahan biasa. Biasanya busana ini dibeli untuk alternatif. Jadi, pembeli justru membeli dua buah pakaian, yaitu gamis mahal dan ekonomis.

    Harga yang dipatok di tokonya mulai Rp.100 ribu sampai Rp.500 ribu. Harga termahal dilengkapi dengan hiasan manik-manik, bordiran, atau payet. Ada juga gamis lebih mahal lainnya tapi khusus di Sumedang tidak laku karena harganya sudah tidak terjangkau.

    ,

    Warta Lingga Sumedang - Satu abad silam, tepatnya pada 1914, pemerintah Hindia Belanda membangun enam benteng di lima lokasi wilayah Sumedang, yaitu Benteng Gunung Kunci, Benteng Palasari, Benteng Pamarisen, Benteng Gunung Gadung, Benteng Pasir Bilik dan Benteng Darangdan.

    Wanawisata Gunung Kunci Sumedang

    Sektar 100 tahun lalu, Sumedang berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram yang kemudian diserahkan kepada pemerintahan Belanda, karena kalah perang. Saat itu, bupati yang memimpin adalah Pangeran Suriaatmaja atau Pangeran Mekah.

    Benteng Pasir Bilik Gunung Datar Sumedang
    Saat menduduki Sumedang, pemerintah kolonial Belanda langsung membangun benteng pertahanan untuk mengawasi tentara Sekutu. Karena saat itu diperkirakan mendarat di Cirebon dan akan menyerang Batavia melalui jalan darat yang dibangun Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Salah satu cara untuk mengadang gerak pasukan itu, Belanda membangun enam benteng di Sumedang. 
     
    Empat benteng di antaranya digunakan sebagai pertahanan Belanda untuk mengintai gerak-gerik sekutu. Satu benteng lainnya yaitu benteng air Darangdan digunakan menahan air di Sungai Cipeles. Pintu air pada benteng tersebut akan dibuka manakala ada penyerangan dari  sekutu. Tujuannya, agar air Cipeles melimpah ke wilayah kota dan menghambat perjalanan rombongan.

    Benteng Cipeles Sumedang
    Benteng-benteng ini dibangun mulai 1914 sampai dengan 1917. Pemerintah Hindia Belanda meresmikannya pada 1918. Keberadaan benteng-benteng tersebut kini sudah satu abad lamanya di Sumedang.

    Sejak Pemerintah Hindia Belanda meninggalkan tanah Sumedang, banyak peninggalan belanda yang mempunyai nilai sejarah dan budaya. Sayang, sejak sepeninggalnya belanda pada 1950 di tanah Pasundan ini, benteng-benteng tersebut terbengkalai hingga kini.

    Namun, keberadaan lima benteng masih unik untuk diceritakan, dinikmati, dan disaksikan. Menelusuri benteng-benteng tersebut menjadi wisata yang menakjubkan bagi sejumlah wisatawan minat khusus. Pemkab Sumedang memang tak pernah merawat benteng-benteng ini lalu menjadikannya sebuah objek wiata menarik. Sekarang, mari kita telusuri benteng-benteng tersebut.


    Jadi Saksi Bisu Perang Dunia I
    Enam benteng peninggalan masa pemerintahan Hindia Belanda di Kabupaten Sumedang sangat bisa menjadi objek wisata. Benteng tersebut unik dan langka karena dari seluruh kota/kabupaten peninggalan Belanda di Jawa Barat, hanya ada di Sumedang. Benteng-benteng yang dibangun mulai 1914 atau sekitar 1 abad lalu tersebut menjadi saksi sejarah Perang Dunia I pertama yang juga berdampak di Indonesia. Namun saying Pemkab Sumedang tak serius merawat peninggalan sejarah ini, padahal potensinya sungguh luar biasa.

    “Benteng-benteng peninggalan ini sangat berpotensi menjadi objek wisata menarik karena unik, tapi tak pernah ada penanganan serius malah terbengkalai,” kata pengamat Sejarah dan Budaya di Sumedang Bibing Rusmana.

    Menurut Bibing, pariwisata bisa dikembangkan jika ada dua hal yaitu keindahan dan keunikan. Jika Sumedang tak indah karena tak punya pantai, maka ada potensi lainnya yang unik yang bisa menjadi daya tarik wisata. Pegunungan di Sumedang masih menarik untuk dikunjungi. Apalagi selalu disertai cerita sejarah dan budaya yaitu sejarah masa penjajahan Belanda dan budaya kasundaan zaman Kerajaan Sumedang Larang.

    Dari enam peninggalan benteng di Sumedang, dua benteng pernah dirawat, yaitu Benteng Palasari dan Benteng Gunung Kunci. Dua lokasi ini kini menjadi Taman Hutan Rakyat (Tahura). Semula, Gunung Kunci dan Palasari dikelola Perum Perhutani. Demi kelestarian dan konservasi, dua kawasan hutan kota ini ditarik kewenangannya oleh pemkab di bawah pengelolaan Dinas Kehutanan dan Perkebunan.

    Kegiatan penataan pernah dilakukan di Gunung Kunci dengan dana lebih dari Rp 1 miliar pada 2010. Namun, kegiatan yang semua direncanakan di lokasi ini tak pernah terjadi seperti pementasan seni karena terbangun sebuah panggung terbuka dengan tribune yang mengelilinginya.

    Kini, enam benteng ini terbengkalai dan tak pernah diangkat keunikannya. Padahal, masih ada banyak cerita dan sejarah yang belum terungkap dari benteng-benteng ini mengingat data dan informasi ini hanya dimiliki pemerintahan belanda dengan keamanan yang tinggi.

    Meski Pemkab Sumedang kurang merawat lima BENTENG peninggalan kolonial  Belanda, namun hingga kini benteng-benteng itu masih berdiri kokoh. Berikut kelima benteng tersebut :

    1. Benteng Gunung Palasari
    Benteng Palasari terletak di puncak Gunung Palasari, Kelurahan Pasangrahan, Kecamatan Sumedang Selatan. Benteng yang dibangun sekitar tahun 1913-1917 di atas lahan seluas 6 Ha ini berada di arah timur pusat pemerintahan Sumedang Larang. Terdiri dari 8 buah bangunan beton. Masing- masing benteng dibangun secara terpisah dalam jarak dekat satu sama lain dengan bentuk melingkar. Di dalam benteng ini terdapat 27 ruangan berpintu yang dilengkapi 25 buah jendela dengan 46 buah lubang ventilasi. Dulunya Benteng Palasari yang merupakan benteng tertinggi di sekitar kota Sumedang ini berfungsi sebagai gudang mesiu atau mungkin sebagai pos observasi yang hanya berjarak kurang dari 1 km dari Tangsi Belanda (sekarang KODIM 0610 Sumedang). Untuk menuju benteng ini, Anda bisa mendaki sedikit di Gunung Palasari dari Kampung Sindang Palay di samping Jl. Pangeran Kornel. Jalur pendakian lain adalah dari Nalegong yang berada di samping Jl. Pangeran Sugih. Kedua jalan raya ini adalah jalur utama lalu lintas Sumedang-Cirebon.

    2. Benteng Gunung Kunci
    DIBUAT sekitar 1914-1917. Bangunan di atas lahan seluas 4,6 Ha ini memiliki luas sekitar 2.600 m2 dengan dilengkapi ruangan bawah tanah (gua atau bengker) sekitar 450 m2. Benteng Gunung Kunci dulunya berfungsi sebagai benteng pertahanan yang dilengkapi kubah meriam dan senapan mesin. Belakangan diketahui bahwa benteng ini dibangun di tanah datar, namun pemerintah Belanda ingin mengelabui sekutu dengan menumpuk tanah di bagian atas benteng sehingga bangunan ini seperti berada di bawah bukit.

    3. Benteng Gunung Gadung
    Berada di sebelah utara sekitar 1 km dari pusat pemerintahan Sumedang Larang. Di lokasi ini, terdapat tiga bangunan dengan konstruksi beton bertulang kokoh sampai sekarang. Selain tempat penyimpanan sejata, dilengkapi dengan bungker berjendela yang berfungsi sebagai tempat pengintaian segala aktivitas di kota Sumedang dari arah selatan. Salah satu ruang di dalam benteng itu berukuran kurang lebih 18 meter persegi, dilengkapi ventilasi berupa cerobong udara. Ruang tersebut diperkirakan tempat tentara Hindia Belanda.

    4. Benteng Pamarisen
    BENTENG yang berada Kampung Pamarisen, Desa Mekarjaya Sumedang Utara ini sama fungsi dengan benteng lainnya, yaitu sebagai tempat pertananan dan penyimpangan mesiu. Terdapat dua bangunan dengan konstruksi terbuat dari beton bertulang. Bangunan pertama berukuran 3x2,5 meter dan bagunan lainnya berukuran 4x2,5 meter. Tempat benteng ini dikenal dengan sebutan Pamarisen Benteng. Sekarang, benteng itu sudah banyak yang dirobohkan. Sebuah SD juga dibangun di atas benteng ini serta dijadikan lapang sepak bola.

    5. Benteng Pasir Bilik
    Dinamai Benteng Pasir Bilik sesuai dengan nama tempat di lokasi tersebut, yaitu di Gunung Datar, perbatasan Sumedang Utara dan Tanjungkerta. Lokasi administratifnya berada di Desa Gunturmekar, Kecamatan Tanjungkerta. Dari benteng ini, terlihat pemandangan menuju laut Jawa di Cirebon. Itulah sebabnya Belanda membangun benteng di lokasi ini untuk mengintai pasukan sekutu yang tiba di Cirebon. Oleh warga setempat benteng ini disebut Gedong Peteng yang berarti gedung atau bangunan gelap.

    6. Benteng Darmaga
    Benteng Darmaga adalan benteng air yang dibuat di Kampung Darangdan, Kelurahan Kota Kulon, Sumedang Utara. Benteng ini dibuat untuk mengatur air Sungai Cipeles. Dengan dilengkapi pintu air, Belanda bisa mengatur pasokan air di sungai yang membelah kota Sumedang ini. Belanda juga bisa melimpahkan air ke wilayah kota jika ingin menghambat perjalanan tentara Sekutu yang melintas di jalan Sumedang.

    Sumber Media: inilahkoran.com

    ,

    Warta Lingga Sumedang - Sumedang merupakan kota kecil yang berlokasi di Jawa Barat yang terletak di antara kota Bandung dan Cirebon. Kota ini terkenal dengan makanan khasnya yaitu Tahu Sumedang yang memiliki cita rasa tersendiri dan banyak menjadi makanan favorit di berbagai kalangan. Kota Sumedang juga terkenal sebagai tempat transit bagi para wisatawan yang akan menuju Bandung atau Cirebon. Kota Sumedang juga memiliki berbagai tempat wisata di Sumedang.

    Tempat wisata di Sumedang kini menjadi tujuan para wisatawan karena memiliki keindahan tersendiri dan udara sejuk yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Lokasi wisata kota Sumedang ini sangatlah strategis karena dikelilingi kota-kota besar seperti Indramayu, Majalengka, Garut, Bandung, dan Subang sehingga sangat menarik dan mungkin dapat Anda jadikan salah satu referensi tujuan wisata Anda yang indah dan menyenangkan.

    Berikut beberapa daftar tempat wisata di Sumedang yang menarik untuk Anda kunjungi bersama keluarga.

    1. Citengah
    Citengah adalah sebuah desa yang berada di daaerah Sumedang Selatan. Sebenarnya tempat ini tidak jauh berbeda dengan tempat ikan bakar lainnya menunya pun terbilang biasa saja mulai dari ikan bakar, ayam bakar dan lain–lain
    2. Pemandian Air Panas Buahdua
    a. Sumber Air Panas Sekarwangi merupakan salah satu tempat wisata di Sumedang yang banyak didatangi para wisatawan dari berbagai kota. Sumber Air Panas Sekarwangi ini berlokasi di Desa Sekarwangi kecamatan Buah Dua, tepat kaki gunung Tampomas yang terletak di utara kota Sumedang. Untuk menuju ke lokasi ini dapat Anda tempuh menggunakan beragam alat transportasi sehingga sangat mudah untuk dijangkau.

    b. Pemandian Cipanas Cileungsi merupakan salah satu tempat wisata di kota Sumedang yang dapat Anda jadikan tujuan wisata berikutnya. Lokasi pemandian air panas ini berada di sekitar Cipanas Sekarwangi yang lebih tepatnya terletak di desa Cilangkap kecamatan Buah Dua di sebelah utara kota Sumedang. Air Panas Cileungsi ini memiliki kandungan belerang yang tinggi sehingga bisa dijadikan pengobatan bagi penyakit tertentu. Dan pastinya bagus bagi kesehatan. 


    3. Gunung Tampomas
    Tampomas adalah sebuah gunung berapi yang terletak di Jawa Barat, tepatnya di sebelah utara kota Sumedang. Stratovokalno dengan ketinggian 1684 meter ini juga memiliki sumber air panas yang keluar di daerah sekitar kaki gunung. Gunung Tampomas berada di utara wilayah Kab. Sumedang. Secara administratif, kawasan Tampomas berada di tiga kecamatan, yaitu Buahdua, Conggeang, Paseh, Cimalaka dan Tanjungkerta. 


    4. Gunung Kunci
    Gunung kunci adalah bukit kecil yang terletak sekitar 250 m di sebelah barat alun-alun kota Sumedang. Wisata Alam Gunung Kunci merupakan salah satu tempat wisata di Sumedang yang banyak dikunjungi wisatawan karena memilki pemandangan yang menakjubkan. Di sini juga terdapat gua peninggalan Belanda yang dulunya digunakan sebagai benteng pertahanan masyarakat Sumedang. Wisata Gunung Kunci ini terletak di sebelah utara alun-alun Sumedang kurang lebih 200 meter. Di sini Anda juga dapat menikmati udara yang sejuk dan fresh sehingga sangat bagus bagi pernafasan. 

    5. Kampung Toga
    Lokasi Kampung Toga sekitar 2 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang, dengan ketinggian 650 DPL koordinat S 06.52.35.1, E 107.54.34.5 dengan nuansa perbukitan yang asri dan pemandangan kota Sumedang serta hamparan sawah dan sungai yang dapat dinikmati dengan wisata dirgantara yaitu Paralayang dan gantole.
    Alamat Kampung Toga :Jalan Makam Cut Nyak Dien Gn Puyuh Desa Sukajaya-Sumedang Selatan, Jawa Barat. Telp/Fax (0265) 206567
     

    6. Air Terjun Sindulang
    Curug Sindulang merupakan salah satu tempat wisata di Sumedang yang sudah cukup terkenal. Curug ini sering disebut juga Curug Kembar yang memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Lokasi dari Curug Sindulang ini adalah tepat diperbatasan kabupaten Sumedang dan Bandung.  Curug Sindulang merupakan wisata air terjun di mana memiliki keindahan yang sangat menakjubkan serta udarannya yang sejuk membuat banyak orang ingin mengunjungi tempat ini dan menjadikannya salah satu tujuan wisata yang akan dikunjungi.

    7. Taman Rekreasi Pangjugjugan
    Desa Wisata Alam Pangjugjugan adalah tempat bagi pengunjungnya untuk bisa bercengkrama dengan alam, bisa mendengar desau cemara, merasakan gemericik air dan gemulai ikan seraya melihat elang terbang dengan gagahnya di udara”, itu sepenggal kalimat yang ada di brosurnya, tapi memang kenyataannya seperti itu. 

    Pertama masuk ke sana disapa dengan sopan oleh satpam dan penjaga tiket dengan sopan dengan logat sumedang  “Maaf pak beli tiket masuk dulu di sini, satu orang 5.000 parkir motornya  1.000”. Harga yang cukup murah memang untuk kantong masyarakat menengah ke bawah. Setelah masuk anda akan ditunjukkan ke tempat parkir yang sangat luas serta pemandangan alam. Permainan cukup lengkap, cukup bayar  5.000 bisa mendapat  fasilitasnya playground, arena bermain anak, lesehan, terapi ikan, batu refleksi, curug, lapangan futsal, yang bayar kolam renang, flying fox, becak mini, tunggang kuda dan paparahuan. Selain wisata alam ternyata ada ekowisata, bisa keliling kebun, peternakan ungas, kelinci, kambing, sapi perah dan sapi potong. Ada juga sekolah alam, outbond, pelatihan,  bahkan pemancingan juga ada.
     

    8. Museum Geusan Ulun
    Museum Prabu Guesan Ulun terletak di tengah kota Sumedang, 50 meter dari Alun-alun ke sebelah selatan, berdampingan dengan Gedung Bengkok atau Gedung Negara dan berhadapan dengan Gedung-gedung Pemerintah. Jarak dari Bandung sekitar 45 km, sedangkan jarak dari Cirebon sekitar 85 km.

    9. Alun-alun Sumedang
    Monumen ini merupakan icon kota Sumedang. Terletak tepat di pusat kota Sumedang dalam rangka memperingati figure yang sangat penting dalam sejarah yaitu Pangeran Soeriatmaja. Monumen ini dibengun pada tanggal 25 april 1992. 

    10. Kebun Teh Margawindu
    Sejak dulu Sumedang memiliki kawasan teh yang bernama Margawindu yang terletak di kawasan perbukitan Desa Citengah, kecamatan Sumedang Selatan. 
      
    Mungkin tidak seperto kawasanperkebunan teh di Puncak, pengunjung diuntungkan dengan suasana yang jauh lebih asri dan alami di kawasan tersebut. Bisa dikatakan juga belum menjadi orang Sumedang jika belun pernah berkunjung ke perkebunan teh Margawindu.
     
    Beragam tempat wisata di Sumedang di atas semoga dapat manjadi referensi dan pengetahuan bagi Anda yang ingin melakukan perjalanan wisata khususnya ke Sumedang, Maka paling tidak Anda sudah mendapatkan pandangan tentang wisata apa saja yang ingin Anda kunjungi ketika di Sumedang Jawa Barat sehingga Anda dapat menentukan tempat-tempat wisata di Sumedang yang cocok bagi Anda. 

    Sumedang tidak hanya memiliki tempat wisata menarik yang menakjubkan dan menarik para wisatawan untuk selalu berkunjung ke sana, tetapi Sumedang juga kaya akan wisata budaya dan adat diantaranya adalah upacara adat Ngalaksa, Kuda Renggong, Tari Sampiung, Genggong, dan juga alat musik Jentreng yang memilki nilai seni tinggi. Sumedang memang merupakan kota yang kaya wisata alam dan budaya. Beberapa informasi mengenai berbagai macam objek wisata di Sumedang di atas semoga dapat bermanfaat bagi Anda.

    , ,

    Warta Lingga Sumedang -Lambang Kabupaten Sumedang diciptakan oleh R. Mahar Martanegara

    Secara lengkap arti dan makna lambang Kabupaten Sumedang adalah sebagai berikut:

    - Perisai melambangkan ksatria utama, percaya kepada diri sendiri.
    - Sisi merah melambangkan semangat keberanian.
    - Dasar hijau melambangkan kemaksuran, pertanian.
    - Bentuk setengah bola serta kubus pada lingga melambangkan bahwa manusia tidak ada yang sempurna.
    - Sinar matahari melambangkan semangat rakyat dalam mencapai kemajuan.
    - Warna kuning keemasan melambangkan keluhuran budi dan kebesaran jiwa.
    - Sinar sebanyak 17 buah melambangkan angka sakti, tanggal proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
    - Delapan bentuk daripada lingga melambangkan bulan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
    - Sembilan belas buah batu pada lingga, empat buah kaki tembok dan lima buah anak tangga melambangkan tahun proklamasi kemeredekaan Republik Indonesia (1945).
    - Tulisan “Insun Medal” melambangkan kristalisai daripada jiwa dan kepribadian rakyat Sumedang.
    - Dasar hitam melambangkan keteguhan jiwa rakyat Sumedang.
    - Batu cadas berliku-liku putih melambangkan keberanian seorang Bupati Sumedang yaitu Pangeran Kornel yang telah menujukkan perlawanan terhadap penjajahan kolonial.

    Sumber: R. Moch. Achmad Wiriamadja (SIKAP!, 2009)

    ,

    Warta Lingga Sumedang, Dalam Babad Darmaraja yang datang pertama kali ke wilayah yang sekarang dinamai Darmaraja itu adalah kaum awam antara lain pemburu hewan dan pengembara. Mereka hidup disana kemudian datang juga golongna resi yang menyebarkan agama.

    Salah satu yang datang ke tempat itu Sanghiyang Resi Agung dari Nagri Galuh dan membuat padepokan di Cipeueut (Desa Cipaku Darmaraja, red) pinggir Sungai Cimanuk.  Kemudian datang juga Guru Aji Putih ke tempat yang kini bernama Leuwihideung. Saat itulah mulai berdiri kerajaan Tembong Agung.

    Guru Aji Putih inilah yang menyebarkan agama Islam di Sumedang dan dia adalah orang pertama yang bergelar haji karena berangkat ke Mekah untuk memperdalam agama Islam. 

    Nama Aji Putih pun berubah menjadi Guru Haji Aji Putih atau Haji Darmaraja. Makam Prabu guru Aji Putih itu kini berada di Pajaratan Landeuh Desa Cipaku.

    Sumedanglarang sendiri muncul saat Tajimalela berkuasa di wilayah ini. Tajimalela saat itu berseru Insun Medal Madangan ketika  selesai bertapa brata. Namun tak ada yang pasti apa arti kalimat itu. “Dari cerita-cerita di masyarakat maksudnya  kula lahir di tempat ieu (madangan=tempat nyampurnakeun). Nama itu berubah melalui proses nasal (istilah basa) Sumedang Rarang dan menjadi Sumedang Larang,” kata Dharmawan yang lebih dikenal dengan nama Aki Wangsa yang juga pengarang buku Rucatan Budaya Bumi Sumedang.

    Tajimalela ini kemudian menyerahkan kekuasan kepada ketiga anaknya Sunan Ulun, Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung yang akan menjadi raja dengan menyebutkan siapa yang membelah dewegan (kelapa muda) dan ada airnya dialah yang nanti menjadi raja setelah mereka sebelumnya bertapa. “Ternyata yang membuka dewegan ada airnya itu Prabu Lembu Agung tetapi ia menolak menjadi raja karena sesuai tradisi yang menjadi raja yang tertua,” katanya dan terjadi perkelahian karena tidak mau menjadi raja itu.

    Namun akhirnya Tajimalela dan ketiga anaknya bermusyawarah dan memutuskan Prabu Lembu Agung yang menjadi raja. “Dari Prabu Lembu Agung inilah keluar kata lisan Darma Ngarajaan (hanya sekedar menjadi simbol raja saja, red) yang akhirnya menjadi daerah Darmaraja,” katanya. Kini Makam Prabu Lembu Agung berada di Astana Gede Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja.

    Sementara Tajimalela akhirnya bertapa ke Gunung Lingga hingga akhir hayatnya dan makamnya juga berada di puncak Gunung Lingga Desa Cimarga, Kecamatan Cisitu.  Kerajaan Sumedang Larang kian maju pesat dan akhirnya memintahkan keraton kerajaanya dari Leuwihideung ke Ciguling Pasanggrahan dan dilanjutkan ke Kutamaya.

    ,

    Warta Lingga Sumedang - Cagar Budaya merupakan aset yang harus dijaga dan dilestarikan. Dari data Dinas kebudayaan pariwisata dan olah Raga (Disbudparpora), Kabupaten Sumedang memiliki sebanyak 103 cagar budaya yang sudah resmi termasuk yang berada di lokasi genangan Jatigede.

    Salah satu Cagar budaya dari sekian banyak cagar budaya di Kabupaten Sumedang adalah situs makam Buyut Situraja yang terletak di Rw 2 Desa Situraja Kecamatan Situraja. Tempat ini sangat dikeramatkan oleh masyarakat setempat karena makam tersebut dipercaya sebagai leluhur masyarakat Suturaja.



    Makam Buyut Situraja Sumedang Jawa Barat


    Seperti dikatakan kepala Desa Situraja Odi Supriadi ketika ditemui Korsum di ruang kerjanya Rabu, (26/1) setiap bulan mulud selalu banyak yang jiarah ke makam tersebut . bukan saja orang Situraja tetapi lebih banyak dari luar kota sepertia Cirebon, Indramayu, Jogyakarta dan kota-kota lain bahkan dari Disbudpar propinsi pernah datang.

    Kami merasa heran dan penasaran ketika ada tamu peziarah dari Keraton Jogya dengan berpakaian adat Jawa sekitar 50 meter dari lokasi makam sudah ngagepor berarti sangat dihormatinya. Sehingga kami pun sangat penasaran apa hubungannya Makam keramat ini dengan Keraton Jogya. Tetapi kami pun tidak tahu tentang sejarahnya karena para orang tua yang mengetahui riwayatnya sekarang sudah meninggal, ujar kades.

    Semuanya ada empat makam yaitu Buyut Situraja, Embah Buyut merah, Embah Buyut Candra Singa dan Embah Buyut Ageung namun setiap tahun ketika acara ritual hajat lembur sekitar bulsn Agustus-September selalu di fokuskan ke makam Buyut Situraja.

    Kami belum tahu apakah sudah ada pengakuan dari pemerintah dalam hal ini Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) atau belum karena belum pernah ada bantuan untuk penataan sekitar situs, tapi kami telah mengajukannya, selama ini yang pernah membantu untuk penataan dari pejiarah. Kalau belum, kami berharap ada pengakuan secara resmi dari pemerintah. Kami dengan pak Camat berencana akan menyusun buku sejarah Situraja sebagai titik tolak hari jadi Kecamatan Situraja.

    Ketika di konfirmasikan kepada kepala Bidang Kebudayaan pada Disbudparpora Cucu Sutaryadibrata mengatakan cagar budaya itu harus bermanfaat bagi ilmu pengetahuan serta budaya masyarakat. Untukmengetahui sejarahnya tentunya dari masyarakat setempat yang menentukan, ujar Cucu.

    Setelah membuka buku tentang data cagar budaya di Kabupaten Sumedang Cucu pun langsung memperlihatkan data tersebut dan ternyata terlihat jelas bahwa situs itu sudah terdaftar dan diakui oleh pemerintah.

    Sumber Media: Korsum.com

    Warta Lingga Sumedang - Asal Mula Nama Situraja Kecamatan Situraja,  Pada suatu hari, raja di istiana Sumedang menyuruh patih-patihnya agar menyiapkan danau atau situ.
    Karena pada saat itu raja sedang ingin memancing dan memang itu hobi raja tersebut. Lalu patih-patihnya kembali kekerajaan dan memberitahu raja kalau danau (situ) yang diminta sudah siap untuk dipakai memancing. Lalu rombongan raja bersama patih-patihnya berangkat untuk pergike danau (situ) itu.

    Setelah samapai disana raja dengan didampingi oleh para dayangnya memancing di danau (situ) itu. Tidak lama kemudian, pancingan raja pun berhasil mengenaiikan yang sangat besar sekali, sampai-sampai raja pun tak kuat menahan tarikan dari ikan tersebut. Dan akhirnya, raja pun terjatuh kedanau (situ) yang dalam sehingga patih-patih dan dayang-yangnya pun tidak dapat melakukan apa-apa karena raja sudah tenggelam tak terlihat lagi. Dan di beri namalah daerah danau (situ) itu “SITURAJA“.

    Mitos
    Uyut merah adalah seorang yang sakti.Semasa hidupnya dia menyukai petasan atau granat. Beliau wafat, dan dimakamkan di Situraja yang terletak di pasar situraja. Makam Uyut Merah juga dipercaya oleh sebagian masyarakat karena ada pesan dari Uyut Merah: “apabila yang mau berziarah ke makam saya harus menyalakan petasan yang besar”.

    Sampai sekarang masyarakat yang masih memperayainya masih melaksanakan ritual menyalakan petasan yang besar tepatnya di makam Uyut Merah. Di suatu hari, waktu pembongkaran makam Uyut Merah yang akan digunakan sebagai pasar . Ada kejadian aneh,tiba-tiba hujan angin besar pada saat memindahkan makam Uyut Merah . Akhirnya, masyarakat memutuskan makam itu tidak jadi dipindahkan. Sampai sekarang makam itu masih dianggap makam keramat, dan dilestarikan karena pada setiap lebaran masih banyak orang yang berziarah kemakam uyut merah tersebut.

    Dongeng
    Zaman dahulu, daerah situraja kedatangan seorang Pangerang Sumedanglarang. Dia berkunjung kepada masyarakat dan melihat kehidupan masyarakat khususnya di kampung Cikubang. Selama diperjalanan, Pangeran samapai di kampung pamulihan, Pangeran diberi makan oleh masyarakat Pamulihan kebetulan disuguhi sambel,lalapan dll. 

    Lalu Pangeran bilang: “Sambalnya enak sekali”
    Dan sampai sekarang yang namanya sambel Pamulihan itu yang beredar dimasyarakat rasanya enak.
    Lalu setelah itu Pangeran melanjutkan perjalanan dengan patih-patihnya sampai di kampung Cikubang.

    Ada seorang petani ditanya oleh Pangeran Sumedang: “ Sedang apa pak?“
    Petani itu menjawab: “Sedang mengambil mangga .”
    Berhubungan petani itu pelit, Pangeran yang meminta mangga itu tidak diberi.
    Dan Pangeran berkata: “Mangga disini mah luarnya bagus, tapi dalamnya banyak ulet.”
    Sampai sekarang manga dari cikubang dalamnya jelek tapi luarnya bagus. Itu kenyataan yang diucapkan oleh Pangeran Sumedang. Ini sebagian cerita Pangeran Sumedang.

    Warta Lingga Sumedang -  Makam Leluhur Kecamatan Situraja
    1) Keramat Situraja
    Buyut Merah dan Buyut Situraja
    Keramat Situ/Cileutik
    Dsn.Situraja 03/02 Ds.Situraja-Situraja
    Juru kunci :
    1.Tayim
    2.Dede

    2) Dalem Wirakara
    Dsn Cikadu 02/02 Ds.Cikadu-Situraja
    Juru Kunci :
    1.Djamuh
    2.Juanda

    3) Buyut Ande dan Buyut Bunut
    Dsn.Bunut 01/02 Ds.Cijati-Situraja
    Juru kunci : Aki Ajum

    4) Lingga Taktak
    Dsn.Campaka kaler 03/04 Ds.Sunda mekar-Situraja
    Juru kunci : Yayat kusumah

    5) Mbah Pamelang Luwuk
    Dsn.Luwuk 02/04 Ds.Sunda mekar-Situraja
    Juru kunci : Ajum

    6) Embah Pangkon luwuk
    Dsn.luwuk 02/04 Ds.Situraja-Situraja
    Juru kunci : Aki Aja

    7) Patilasan Nyimas dayang Sumbi dan Sangkuriang
    Dusun.Bangbayang 04/08 Ds.Bangbayang - Situraja
    Juru kunci :
    1.Saripudin
    2.Poleng

    8) Buyut Cimuncang
    Dsn.Cimuncang 02/08 DsSituraja-Situraja
    Juru kunci : Sumarta

    9) Keramat Tarik Kolot
    Dsn mekar mulya 02/03 Ds.Tarik kolot-Situraja
    juru kunci : Mista
    `
    Sumber Babad Sunda

    Warta Lingga Sumedang - Makam Leluhur Kecamatan Darmaraja

    1) Keramat Cipaku/Cipeueut
    · Eyang Prabu Guru Aji Putih
    · Ratu inten dewi Nawang wulan
    · Prabu Lembu Agung
    Iyat Hidayat Dsn. Cipaku 06/01 Desa Cipaku Kec. Darmaraja

    2) Eyang Dalem Santapura
    Wikarta
    Dsn. Ciwangi 11/03 Desa Cibogo Kec. Darmaraja

    3) Mbah Dira dan Mbah Djayaningrat
    Iri Lesmana Dsn. Lameta 01/02 Desa Leuwi Hideung Kec.


    4) Mbah Suta Diangga dan Mbah Djayaningrat

    Oding Dsn. Cihideung 03/01Desa Leuwi Hideung Kec. Darmaraja

    5) Pangeran Kumendang Dipasinga
    1. Dadang
    2. Lazimatul Asror
    Dsn. Betok 11/02 Desa Sukamenak Kec. Darmaraja

    6) Mbah Buyut Mandor Sura
    Tanu Dsn. Ciwangi 06/03 Ds. Cibogo Kec. Darmaraja

    7) Karamat Gunung Cikari
    Jaya kelana Dsn. Cangkuang 02/03 Ds. Neglasari Kec. Darmaraja

    8) Buyut Bongkok
    Juanda Dsn. Kebontiwu 02/05 Ds. Cibogo Kec.

    9) Buyut Paniis
    1. Sumarna
    2. Adung
    Dsn. Paniis 07/09 Ds. Cieunteung Kec. Darmaraja

    10) Karamat Gunung Padang
    Adang Dsn. Ciparut 02/04 Ds. Cikeusik Kec. Darmaraja

    11) Mbah Dalem Santadipura
    1. Wikarta
    2. Wahyu
    Dsn. Betok 01/03 Ds. Sukamenak Kec. Darmaraja

    12) Keramat Gunung Penuh
    1. Edi
    2. Usman
    Dsn. Cibarengkok 03/05 Ds. Ranjeng Kec. Darmaraja

    13) Keramat Sangkan Jaya
    Ruhana Dsn. Cicadas 07/10 Ds. Cipeuteuy Kec. Darmaraja

    14) Partilasari Tembong Agung
    Radi Dsn. Muhara 01/02 Ds. Leuwi Hideung Kec. Darmaraja

    Warta Lingga Sumedang - Makam Leluhur Kecamatan Buahdua

    1) Buyut Kerang
    Bp. Salhi Dsn. Sukamulya 02/03 Ds. Citaleus Buahdua

    2) Cilumping
    Tatang Suhiyat Dsn. Cilumping 02/06 Eyang Candi Karang Ds. Cikurubuk Buahdua

    3) Citaman
    Enan Dsn. Citaman 03/02 Patilasan Prabu Siliwangi Ds. Bojongloa Buahdua

    4) Buyut Hariang
    Oom Dsn. Hariang 03/06 Ds. Hariang Buahdua

    5) Mata Air Cipanas Cileungsing
    Abah Darim Dsn. Cileungsing 15/04
    Ds. Cilangkap Buahdua

    6) Buyut Rawi
    Bp. Kasip Dsn. Gendereh 04/05 Ds. Gendereh Buahdua

    7) Pagadean
    Itang Dsn. Cigalagah Girang 19/05 Ds. Cilangkap Buahdua

    Sumber: Cerita Ki Sunda

    Warta Lingga Sumedang - Makam Leluhur Kecamatan Tanjungkerta Sumedang

    1) Gunung Geulis
    2) Eyang Kanoman Kawasa
    Bp. Dari Dsn. Pangaroan 04/05 Ds. Cipanas Tanjungkerta

    3) Embah Santra Pamulang
    Bp. Saca Dsn. Caringin 01/02 Ds. Mulya Mekar Tanjungkerta

    4) R. Gadung Raja Mantri
    H. Mamat Dsn. Parigi 03/04 Tanjung Medar

    5) Embah Suci Sahrudin
    Emus Dsn. Banceuy 02/03 Ds. Tanjungkerta Kec. Tanjungkerta

    6) Embah Juru Tulis
    Maman. S Dsn. Banceuy 05/03 Ds. Tanjungkerta Kec. Tanjungkerta

    7) Embah Sanca Pamulang
    Saca Dsn. Cimuncang 06/03 Tanjungkerta

    8) Embah Haji
    Suharya Dsn. Cipelah 02/05 Tanjungkerta

    9) Embah Sahrudin
    Wirya Dsn. Nagrog 01/04 Ds. Cipanas Tanjungkerta

    10) Buyut Gede
    Abdul Dsn. Gunung Datar 04/05 Ds. Gunung Datar Tanjungkerta

    11) Embah Patma Negara
    Aki Ucin Dsn. Narogong 07/10 Ds. Gunung Datar Tanjungkerta

    12) Embah Komarudin
    Yayat Dsn. Cipanas 03/05 Ds. Cipanas Tanjungkerta

    13) Eyang Keramat
    Bp. Ae Dsn. Nagrog 02/02 Ds. Gunung Datar Tanjungkerta

    14) Batu Tapak
    Anwar Dsn. Cimanggala 05/06 Ds. Gunung Datar Tanjungkerta

    15) Buyut Enong
    Wahyu Dsn. Pangaroan 02/03 Ds. Cipanas Tanjungkerta

    16) Uyut Indra Kusumah
    Encum Dsn. Wanajaya 03/05 Embah Nasir Tanjung Medar

    17) Pasir Malang
    Ust. Maman Dsn. Gembong Bp. Tatang Ds. Guntur Mekar Tanjungkerta

    18) Penenjoan
    Lukmanul hakim Dsn. Cigentur 01/01 Ds. Cigentur Tanjungkerta

    19) Embah Ranta Wijaya
    Ae Sulaeman Dsn. Situbaru 03/02 Ds. Pamekarsari Tanjung Medar

    20) Buyut Nur Salid
    Tatang Dsn. Cisumur 01/02 Buyut Citeung Ds. Pamekarsari Tanjung Medar

    21) Cigalumpit
    Ahmad Dsn. Babakan Sukasari 03/03 Ds. Kerta Mekar Tanjungkerta

    22) Indra Praja
    Bp. Seni Dsn. Wanajaya 01/03 Nana Ds. Wanajaya Tanjung Medar

    23) Buyut Sukasari
    Ikin Dsn. Sukasari 02/02 Ds. Kerta Mekar Tanjungkerta

    Sumber: Cerita Ki Sunda

    ,

    Warta Lingga Sumedang, Jatinangor adalah sebuah kawasan di sebelah timur Kota Bandung, merupakan satu dari 26 Kecamatan yang ada di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sebelumnya bernama Kecamatan Cikeruh namun sejak tahun 2000 berganti nama menjadi Kecamatan Jatinangor dengan alasan nama tersebut terasa lebih familiar dan lebih popular dikenal khalayak ramai.

    Jatinangor sendiri adalah nama blok perkebunan di kaki Gunung Manglayang yang kemudian dijadikan kompleks kampus sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Padjadjaran. Dari Topografische Kaart Blaad L.XXV tahun 1908 dan Blaad H.XXV tahun 1909 yang diterbitkan oleh Topografische Dienst van Nederlands Oost Indie, telah dijumpai nama Jatinangor di tempat yang sekarang juga bernama Jatinangor. Ketika itu, daerah Jatinangor termasuk ke dalam Afdeeling Soemedang, District Tandjoengsari. Nama Cikeruh sendiri diambil dari sungai (CiKeruh) yang melintasi kecamatan tersebut. Pada Peta Rupabumi Digital Indonesia No. 1209-301 Edisi I tahun 2001 Lembar Cicalengka yang diterbitkan oleh Bakosurtanal masih dijumpai nama Kecamatan Cikeruh untuk daerah yang saat ini dikenal sebagai Kecamatan Jatinangor. Pada beberapa dokumen resmi dan setengah resmi saat ini, masih digunakan nama Kecamatan Cikeruh. Kecamatan ini terletak pada koordinat 107o 45' 8,5" 107o 48' 11,0" BT dan 6o 53' 43,3" 6o 57' 41,0" LS. Kode Pos untuk kecamatan ini adalah 45363.

    Wilayah Jatinangor memiliki luas + 26,20 Km2 dengan karakteristik wilayah perkotaan hampir 80% dari keseluruhan 12 Desa, meliputi 4 Desa kawasan agraris (Cileles, Cilayung, Jatiroke, Jatimukti), 4 Desa kawasan pendidikan (Hegarmanah, Cikeruh, Sayang, Cibeusi) dan 4 Desa kawasan industri (Cisempur, Cintamulya, Cipacing, Mekargalih).

    Sebagaimana daerah lain di kawasan Cekungan Bandung iklim yang berkembang di Jatinangor adalah iklim tropis pegunungan.

    Titik terendah di kecamatan ini terletak di daerah Desa Cintamulya setinggi 675 m di atas permukaan laut, sedangkan titik tertingginya terletak di puncak Gunung Geulis setinggi 1.281 m di atas permukaan laut. Sungai-sungai penting di Jatinangor meliputi Ci Keruh, Ci Beusi, Ci Caringin, Ci Leles, dan Ci Keuyeup.

    Saat ini Jatinangor dikenal sebagai salah satu kawasan Pendidikan di Jawa Barat. Pencitraan ini merupakan dampak langsung pembangunan kampus beberapa institusi perguruan tinggi di kecamatan ini. Perguruan tinggi yang saat ini memiliki kampus di Jatinangor yaitu:
    1. Universitas Padjadjaran (Unpad) di Desa Hegarmanah dan Desa Cikeruh.
    2. Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Desa Cibeusi. Sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).
    3. Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) di Desa Cibeusi.
    4. Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor, dulunya Universitas Winaya Mukti (Unwim) di Desa Sayang.
    5. Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Al-Ma'soem di Desa Cipacing


    Sedangkan perusahaan/industri skala besar, yaitu : 
    1. Kahatex Industri (terletak di Desa Cintamulya dan Cisempur)
    2. Polypin Canggih (terletak di Desa Cipacing)
    3. Insan Sandang (terletak di Desa Mekargalih)
    4. Wiska (terletak di Desa Cipacing)


    Seiring dengan hadirnya bangunan kampus dan pabrik tersebut, Jatinangor juga mengalami perkembangan fisik yang pesat. Sebagaimana halnya yang menimpa lahan pertanian lain di Pulau Jawa, banyak lahan pertanian di Jatinangor yang beralih fungsi menjadi kosan untuk mahasiswa ataupun tempat perbelanjaan. Salah satu yang terkenal saat ini yaitu pusat perbelanjaan Jatinangor Town Square (JATOS) dan Plaza Pajajaran.

    Beberapa objek penting yang ada di Jatinangor antara lain meliputi objek bersejarah dan objek pariwisata. Objek bersejarah tersebut berupa Menara Loji di kampus ITB dan jembatan Cikuda yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan jembatan cincin. Dulu jembatan tersebut digunakan sebagai jembatan rel kereta yang menghubungkan jalur kereta dari arah Tanjungsari ke Rancaekek

    Menara jam, yang sering disebut Menara Loji oleh masyarakat sekitar itu dibangun sekitar tahun 1800-an. Menara tersebut pada mulanya berfungsi sebagai sirene yang berbunyi pada waktu-waktu tertentu sebagai penanda kegiatan yang berlangsung di perkebunan karet milik Baron Baud. Bangunan bergaya Neo gothic ini dulunya berbunyi tiga kali dalam sehari. Pertama, pukul 05.00 sebagai penanda untuk mulai menyadap karet; pukul 10.00 sebagai penanda untuk mengumpulkan mangkok-mangkok getah karet; dan terakhir pukul 14.00 sebagai penanda berakhirnya kegiatan produksi karet.

    Baron Baud adalah seorang pria berkebangsaan Jerman yang menanamkan modal bersama perusahaan swasta milik Belanda dan pada tahun 1841 mendirikan perkebunan karet bernama Cultuur Ondernemingen van Maatschapij Baud yang luas tanahnya mencapai 962 hektar. Perkebunan karet ini membentang dari tanah IPDN hingga Gunung Manglayang.

    Sekira tahun 1980-an lonceng Menara Loji dicuri dan hingga kini kasusnya masih belum jelas; baik mengenai pencurinya, apa motifnya, dan bagaimana tindak lanjut dari pihak berwenang. Bahkan Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang selaku pihak yang seharusnya mengawasi pemeliharaan cagar budaya pun tidak tahu-menahu mengenai kelanjutan kisah pencurian itu. Saat ini Menara Loji nampak tidak terurus. Perawatan terakhir menara ini berupa pengecatan ulang yang dilakukan oleh pihak Rumah Tangga Unwim pada tahun 2000.

    Jembatan di Cikuda yang sering disebut sebagai Jembatan Cincin oleh masyarakat sekitar pada mulanya dibangun sebagai penunjang lancarnya kegiatan perkebunan karet. Jembatan Cincin dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda yang bernama Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1918. Jembatan ini berguna untuk membawa hasil perkebunan; dan pada masanya, jembatan ini menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat.

    Sebagaimana halnya dengan Menara Loji, tidak ada satupun instansi yang mau menangani perawatan jembatan bersejarah ini. Baik Pemda Sumedang maupun PT KAI (Kereta Api Indonesia), dua pihak yang cukup berkepentingan dengan Jembatan Cincin, menyatakan bahwa pemeliharaan Jembatan Cincin tidak termasuk dalam tanggungjawabnya. Menurut PT KAI, jembatan ini tidak pernah diperbaiki karena sudah tidak digunakan lagi. Sedangkan menurut Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Pemda Sumedang, perawatan bangunan bersejarah tidak termasuk dalam tanggung jawab dinas tersebut karena dinas ini hanya bertugas memperhatikan dan membina nilai-nilai budaya.

    Objek pariwisata di Jatinangor antara lain meliputi Bumi Perkemahan Kiara Payung dan Bandung Giri Gahana (Golf and Resor). Walaupun demikian, sebenarnya sebagian besar tanah Bumi Perkemahan Kiara Payung terletak dalam wilayah Kecamatan Sukasari. Selain itu, Jalan Raya Jatinangor sepanjang 4,83 km yang menghubungkan Bandung dengan Sumedang merupakan penggalan dari De Groote Postweg (Jalan Raya Pos) yang dibuat oleh Herman Willem Daendels pada tahun 1808.

    Sumber Media: Jatinangor.com

    ,

    Warta Lingga Sumedang - Sumedang, Jawa Barat, jelas mempesona, di tanah yang sama itulah Prabu Tadjimalela, pendiri Kerajaan Sumedang Larang, nun ratusan tahun silam jatuh hati pada kecantikan wilayah itu dan berucap selalu pada tanah kelahirannya: Insun Medal, Insun Madangan.

    "Di sinilah aku dilahirkan dari tanah inilah aku menerangi."

    Ucapannya bukan tanpa alasan, daya pikat wilayah itu telah kuat sejak ratusan tahun lalu bahkan jauh sebelum sebuah kerajaan besar penerus Pajajaran berdiri di atasnya; Sumedang Larang.

    Relief dan topografi tanah yang bergelombang justru menjadi kelebihan tersendiri. Kawasan itu terapit sejumlah gunung api aktif mulai dari Manglayang hingga Geulis yang menjadikan daratannya subur.

    Kawasan yang semula bernama Himbar Buana itu disemati predikat Sumedang berasal dari ungkapan jatuh hati Tadjimalela pada tempatnya dilahirkan: Insun Medal.

    Sumedang tidak berhenti mempesona sampai saat ini. Kecantikan alamnya laksana sudah menjadi kodrat bahwa kawasan itu begitu membuat kangen pendatang yang pernah mampir.

    Peradaban yang berkembang di atasnya kian menjadikan kota itu sempurna sebagai daerah persinggahan wisata budaya.

    Sumedang menawarkan beragam pengalaman wisata yang tidak pernah ada di daerah lain mulai dari agrotourism, ekowisata, culinary trip, hingga adventure tourism.

    Inilah Sumedang, kota kecil di selatan Indramayu, 45 km dari kota Bandung, di persimpangan Bandung-Cirebon, tiga jam dari ibukota Indonesia, menawarkan iklim lain kepada wisatawan yang ingin memanjakan paru-parunya dengan udara yang masih perawan.

    Sumedang memanggil dengan pesonanya. "Selamat datang di tanah kelahiranku," boleh jadi itulah yang akan disampaikan Prabu Tadjimalela kepada setiap wisatawan yang mampir.


    Kota Kuno

    Ketika Sumedang memanggil tidak akan ada yang sanggup untuk menolak berpaling.

    Kota itu memang sudah terbukti tak pernah kehilangan pesonanya untuk menghipnotis wisatawan. Hutan Manglayang yang bernaung di kawasannya menjadi daya tarik yang tak pernah habis direguk.

    Dan jika ingin mendalami peradaban yang berkembang di dalamnya, Sumedang adalah gudangnya. Kota itu memiliki ciri kota kuno khas Jawa Barat. Di tengah kota terdapat alun-alun sebagai pusat kota yang dikelilingi Masjid Agung, penjara, dan kantor pusat pemerintahan.

    Di tengah alun-alun berdiri Monumen Lingga yakni sebuah tugu peringatan atas jasa Pangeran Suriatmaja dalam mengembangkan Sumedang.

    Monumen itu dibangun pada 1902 oleh Pemerintah Belanda dan kini menjadi lambang kebanggaan Kabupaten Sumedang.

    Bupati Sumedang, berulang kali menegaskan bahwa daerahnya telah siap menjadi destinasi wisata pilihan setelah Bandung. "Sumedang sudah sangat layak dikunjungi wisatawan dan kami siap menjadi daerah tujuan wisata di Jawa Barat," katanya.

    Bukan tanpa alasan, kota itu memiliki hampir semua yang dicari wisatawan ketika melancong. Letaknya juga strategis tepat di persimpangan jalur wisata Bandung-Cirebon.

    Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat sedang berupaya keras untuk menjadikan Sumedang sebagai persinggahan wajib wisatawan yang melintas antara Bandung-Cirebon.

    Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sumedang, Karsidi, mengatakan, pihaknya sedang dalam tahap mewujudkan Sumedang sebagai daerah tujuan wisata.

    "Kami berupaya meningkatkan arus kunjungan wisata ke Sumedang dengan berbagai cara. Profil wisata daerah kami menawarkan obyek wisata alam, budaya, minat khusus, dan atraksi lainnya," katanya.


    Ekowisata

    Meski terus berkembang tanpa henti, Sumedang tetap mempesona sebagai pusat ekowisata.

    Lihat saja, kawasan Jatinangor dengan topografi yang bergelombang sangat menarik untuk disambangi. Kisaran ketinggian 500-1.100 m dpl menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan pecinta alam sekaligus penyuka petualangan.

    Jika tak puas menikmati kecantikan gunung Manglayang dan Geulis dari ketinggian 500 m dpl, cobalah untuk sesekali naik. Meski hanya kendaraan sejenis Land Rover saja yang mampu menaklukkan jalanan bak sungai kering, tetapi itulah pengalaman yang dicari.

    Kawasan Desa Wisata Sukasari, Kecamatan Sindangsari, Sumedang, misalnya, menjadi salah satu yang paling ditawarkan. Topografi yang bergelombang justru menjadi daya tawar tertinggi yang menjadikan kawasan itu paling sesuai digunakan untuk wisata adrenalin trekking.

    Menginaplah di penginapan sederhana untuk turut merasakan keramahan masyarakat Bumi Pasundan. Mereka umumnya memiliki bintik-bintik merah di pipi; timbunan eritrosit, akibat dinginnya udara di waktu pagi dan tingginya kadar oksigen terlarut.

    Itulah cermin masyarakat yang kenyang menghirup udara segar yang menyehatkan. 

    ,

    Warta Lingga Sumedang, Setiap daerah selalu memiliki ciri khasnya tersendiri, mulai dari kulinernya, budayanya, hingga bahasanya. Salah satunya adalah Kota Sumedang yang terkenal dengan kuliner tahunya. Tapi, sebenarnya enggak cuman tahunya saja loh yang terkenal, Sobat Djadeol. Kota yang terletak di sebelah timur kota Bandung ini juga ternyata terkenal dengan kesenian kuda renggongnya, juga dengan ubi cilembunya yang sangat manis.

    Nah, jika kita berkeliling kota Sumedang, selain  menemukan makanan dan kesenian ciri khasnya itu, kalian juga akan menemukan beberapa bangunan bersejarah peninggalan zaman Belanda. Salah satunya bangunan yang telah menjadi saksi sejarah pada zaman Belanda adalah monumen Lingga atau ada juga yang menyebutnya dengan Tugu Lingga.

    Monumen yang berada tepat di tengah alun-alun kota Sumedang ini dibangun sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa Bupati Sumedang kala itu, yakni Pangeran Aria Suria Atmadja. Karena beliau dianggap sangat berjasa dalam mengembangkan kota Sumedang di berbagai bidang, seperti pertanian, perikanan, kehutanan, peternakan, kesehatan, pendidikan dan banyak bidang lainnya. Beliau memerintah di kota Sumedang dari tahun 1883 sampai 1919. Beliau wafat di Mekah ketika sedang melaksanakan ibadah haji pada 1 Juni 1921.

    Monumen Lingga sendiri dibangun oleh Pangeran Siching dari Belanda pada tahun 1922 yang kemudian diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu Mr. Dirk Fock, yaitu pada 22 Juli 1922. Pada saat peresmian monumen ini ikut hadir bupati Sumedang yang menggantikan Pangeran Aria Suria Atmadja, yakni Tumenggung Kusumadilaga dan beberapa pejabat Hindia Belanda dan tentunya orang-orang pribumi.

    Monumen yang menjadi landmark Kota Sumedang ini merupakan bangunan permanen. Bagian dasar bangunan ini berbentuk bujur sangkar dan dilengkapi dengan sejumlah anak tangga serta pagar disetiap sisinya. Sedangkan bangunan utamanya berupa kubus yang sedikit melengkung disetiap sudut bagian atasnya. Pada bagian ini terdapat sebuah pintu yang dulu digunakan untuk memasukan barang, karena pada zaman dulu monumen ini digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang peninggalan bupati terdahulu.

    Namun, sekarang semua barang yang tadinya disimpan di dalam monumen ini sudah dipindahkan ke Museum Prabu Geusan Ulun. Sedangkan dibagian paling atas monumen ini terdapat bangunan setengah lingkaran yang mirip dengan kubah masjid. Menurut beberapa sumber, ternyata kubah ini merupakan tempat pengambilan barang-barang dari dalam Monumen Lingga, karena sebenarnya kubah ini memiliki kunci dan bisa dibuka.

    Monumen Lingga merupakan bangunan unik yang dibangun pada zamannya, karena pada saat itu seorang penguasa lebih sering membangun Tugu atau Prasasti untuk mengenang suatu hal. Karena keunikan dan sejarahnya, tak heran jika monumen ini dijadikan sebagai lambang resmi Kabupaten Sumedang.

    Sebagai peninggalan sejarah masa silam dan landmark kebanggaan masyarakat Sumedang, sudah selayaknya Monumen Lingga ini selalu dijaga oleh kita semua, terutama oleh warga Sumedang. Jangan sampai monumen ini terabaikan hingga hancur seperti monumen lainnya. Karena setiap monumen mampu mengingatkan kita akan sejarah masa lalu yang bisa kita petik pelajaran di dalamnya.

    ,

    I.  ASAL KATA “SUMEDANG”
    Kata Sumedang berasal dari “inSUn MEdal insun maDANGan”, Insun artinya saya Medal artinya lahir Madangan artinya memberi penerangan jadi kata Sumedang bisa berarti “Saya lahir untuk memberi penerangan”. Kalimat “Insun Medal Insun Madangan” terucap ketika Prabu Tajimalela raja Sumedang Larang I melihat ketika langit menjadi terang-benderang oleh cahaya yang melengkung mirip selendang (malela) selama tiga hari tiga malam. Kata Sumedang dapat juga diambil juga dari kata Su yang berarti baik atau indah dan Medang adalah nama sejenis pohon, Litsia Chinensis sekarang dikenal sebagai pohon Huru, dulu pohon medang banyak tumbuh subur di dataran tinggi sampai ketinggi 700 m dari permukaan laut seperti halnya Sumedang merupakan dataran tinggi.

    II.  ASAL MULA SUMEDANG

    Asal mula Sumedang berasal dari Kerajaan Tembong Agung yang didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih ( 678 – 721 M ) putra Aria Bima Raksa / Ki Balagantrang Senapati Galuh cucu dari Wretikandayun pendiri Kerajaan Galuh. Kerajaan Tembong Agung berada di Citembong Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja. Pada masa Prabu Tajimalela ( 721 – 778 M ) putra dari Guru Aji Putih di bekas Kerajaan Tembong Agung didirikan Kerajaan Sumedang Larang. Sumedang Larang berarti tanah luas yang jarang bandingnya” (Su= bagus, Medang = luas dan Larang = jarang bandingannya).

    Masa kejayaan Sumedang Larang pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601 M) ketika pada masa pemerintahan Pangeran Santri / Pangeran Kusumahdinata I raja Sumedang Larang ke-8 ayah dari Prabu Geusan Ulun pada tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedang Larang Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghiang Hawu atauJaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nganganan), Sangiang Kondanghapa, dan Batara Pancar BuanaTerong Peot membawa pusaka Pajajaran dan alas parabon untuk di serahkan kepada penguasa Sumedang Larang pada waktu itu dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya / Pangeran Kusumadinata II dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda Padjajaran dan Raja Sumedang Larang ke-9. Ketika dinobatkan sebagai raja Prabu Geusan Ulun berusia + 23 tahun menggantikan ayahnya Pangeran Santri yang telah tua dan pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Sakakala atau tanggal 8 Mei 1579 M kerajaan Pajajaran “Sirna ing bumi” Ibukota Padjajaran jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Surasowan Banten


    Yang akhirnya Sumedang mewarisi wilayah bekas wilayah Padjajaran dengan wilayahnya meliputi seluruh Padjajaran sesudah 1527 masa Prabu Prabu Surawisesa dengan batas meliputi; Sungai Cipamali (daerah Brebes sekarang) di sebelah timur, Sungai Cisadane di sebelah barat, Samudra Hindia sebelah Selatan dan Laut Jawa sebelah utara. Daerah yang tidak termasuk wilayah Sumedang Larang yaitu Kesultanan Banten, Jayakarta dan Kesultanan Cirebon. Dilihat dari luas wilayah kekuasaannya, wilayah Sumedang Larang dulu hampir sama dengan wilayah Jawa Barat sekarang tidak termasuk wilayah Banten dan Jakarta kecuali wilayah Cirebon sekarang menjadi bagian Jawa Barat. sehingga Prabu Geusan Ulun mendapat restu dari 44 penguasa daerah Parahiyangan yang terdiri dari 26 Kandaga Lante, Kandaga Lante adalah semacam Kepala yang satu tingkat lebih tinggi dari pada Cutak (Camat) dan 18 Umbul dengan cacah sebanyak + 9000 umpi. Pemberian pusaka Padjajaran pada tanggal 22 April 1578 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadinya Kabupaten Sumedang.


    Peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai Cakrawarti atau Nalendra merupakan kebebasan Sumedang untuk mengsejajarkan diri dengan kerajaan Banten dan Cirebon. Arti penting yang terkandung dalam peristiwa itu ialah pernyataan bahwa Sumedang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran di Bumi Parahiyangan. Pusaka Pajajaran dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh Senapati Jaya Perkosa dari Pakuan dengan sendirinya dijadikan bukti dan alat legalisasi keberadaan Sumedang, sama halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak dan Mataram.


    III.  DARI MASA KERAJAAN KE MASA KABUPATEN

    Pada tahun 1601 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Pangeran Aria Soeriadiwangsa, pada masa Aria Soeriadiwangsa kekuasaan Sumedang Larang di daerah sudah menurun dan Mataram melakukan perluasan wilayah ke segala penjuru tanah air termasuk ke Sumedang. Pada waktu itu Sumedang Larang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan yang akhirnya Pangeran Aria Soeriadiwangsa pergi ke Mataram untuk menyatakan Sumedang menjadi bagian wilayah Mataram pada tahun 1620. Wilayah bekas kerajaan Sumedang Larang diganti nama menjadi Priangan yang berasal dari kata “Prayangan” yang berarti daerah yang berasal dari pemberian yang timbul dari hati yang ikhlas dan Pangeran Aria Soeriadiwangsa diangkat menjadi Bupati Sumedang pertama dan diberi gelar Rangga Gempol I (1601 – 1625 M). Sumedang menjadi bagian dari wilayah Mataram karena Pangeran Aria Soeriadiwangsa I mengganggap: 

    1. Sumedang sudah lemah dari segi kemiliteran, 
    2. menghindari serangan dari Mataram karena waktu itu Mataram memperluas wilayah kekuasaannya dari segi kekuatan Mataram lebih kuat daripada Sumedang dan 
    3. menghindari pula serangan dari Cirebon dan VOC. Sultan Agung kemudian membagi-bagi wilayah Priangan menjadi beberapa Kabupaten yang masing-masing dikepalai seorang Bupati, untuk koordinasikan para bupati diangkat seorang Bupati Wadana. Pangeran Rangga Gempol I adalah Bupati Sumedang yang merangkap sebagai Bupati Wadana Priangan pertama (1601 – 1625 M).

    Yang akhirnya wilayah Sumedang Larang pada masa Prabu Geusan Ulun menjadi wilayah Sumedang sekarang. Berakhirlah sudah kerajaan Sunda terakhir Sumedang Larang di Jawa Barat Sumedang memasuki era baru yaitu Kabupaten pada tahun 1620 sampai sekarang. Sejak menjadi Kabupaten, Bupati yang memimpin Sumedang sampai tahun 1949 merupakan keturunan langsung dari Prabu Geusan Ulun (lihat masa pemerintahan) tetapi pada tahun 1773 – 1791 yang menjadi Bupati Sumedang adalah Bupati penyelang / sementara dari Parakan Muncang. Menggantikan putra Bupati Surianagara II yang belum menginjak dewasa Rd. Djamu atau terkenal sebagai Pangeran Kornel.

    IV.  LETAK IBUKOTA KERAJAAN DAN KABUPATEN (678 – 1706 M) BEKAS IBUKOTA KERAJAAN


    No.NAMA TEMPATTAHUNMASA PEMERINTAHANKETERANGAN
    1.Tembong Agung – Leuwi Hideung Darmaraja678 – 893- Prabu Guru Aji Putih
    - Prabu Tajimalela.
    - Prabu Lembu Agung
    - Raja Tembong Agung.
    - Raja Sumedang Larang 1
    - Raja Sumedang Larang 2
    2.Ciguling – Pasanggrahan Sumedang Selatan893 – 1530- Prabu Gajah Agung.
    - Prabu Pagulingan.
    - Sunan Guling.
    - Prabu Tirtakusumah.
    - Nyi Mas Patuakan
    - Raja Sumedang Larang 3
    - Raja Sumedang Larang 4
    - Raja Sumedang Larang 5
    - Raja Sumedang Larang 6
    - Raja Sumedang Larang 7
    3.Kutamaya – Padasuka1530 – 1578Ratu Pucuk Umum/Pangeran Santri- Raja Sumedang Larang 8
    4.Dayeuh Luhur – Ganeas1578 – 1601Prabu Geusan Ulun- Raja Sumedang Larang 9


    BEKAS IBUKOTA KABUPATIAN
    No.NAMA TEMPATTAHUNMASA PEMERINTAHAN
    1.Tegal Kalong – Sumedang Utara1601 – 1625Rangga Gempol I.
    2.Canukur Sukatali – Situraja1601 – 1625Rangga Gede
    3.Parumasan1625 – 1633Rangga Gede.
    4.Tenjo Laut Cidudut – Conggeang1633 – 1656Rangga Gempol II
    5.Sulambitan – Sumedang Selatan1656 – 1706Pangeran Panembahan
    6.Regol Wetan – Sumedang Selatan1706 – sekarangDalem Adipati Tanumadja
     
    MASA PEMERINTAHAN RAJA DAN BUPATI SUMEDANG
    I. MASA KERAJAAN.
    1. Prabu Guru Aji Putih (Raja Tembong Agung) 678 – 721
    2. Batara Tuntang Buana / Prabu Tajimalela. 721 – 778
    3. Jayabrata / Prabu Lembu Agung 778 – 893
    4. Atmabrata / Prabu Gajah Agung. 893 – 998
    5. Jagabaya / Prabu Pagulingan. 998 – 1114
    6. Mertalaya / Sunan Guling. 1114 – 1237
    7. Tirtakusuma / Sunan Tuakan. 1237 – 1462
    8. Sintawati / Nyi Mas Ratu Patuakan. 1462 – 1530
    9. Satyasih / Ratu Inten Dewata Pucuk Umum 1530 – 1578
    ( kemudian digantikan oleh suaminya Pangeran Kusumadinata I / Pangeran Santri )
    10. Pangeran Kusumahdinata II / Prabu Geusan Ulun 1578 – 1601
    II. MASA BUPATI PENGARUH MATARAM.
    11. Pangeran Suriadiwangsa / Rangga Gempol I 1601 – 1625
    12. Pangeran Rangga Gede / Kusumahdinata IV 1625 – 1633
    13. Raden Bagus Weruh / Pangeran Rangga Gempol II. 1633 – 1656
    14. Pangeran Panembahan / Rangga Gempol III 1656 – 1706
    III. MASA PENGARUH KOMPENI VOC.
    15. Dalem Adipati Tanumadja. 1706 – 1709
    16. Pangeran Karuhun / Rangga Gempol IV 1709 – 1744
    17. Dalem Istri Rajaningrat 1744 – 1759
    18. Dalem Adipati Kusumadinata VIII / Dalem Anom. 1759 – 1761 19. Dalem Adipati Surianagara II 1761 – 1765 20. Dalem Adipati Surialaga. 1765 – 1773
    IV. MASA BUPATI PENYELANG / SEMENTARA
    21. Dalem Adipati Tanubaya 1773 – 1775
    22. Dalem Adipati Patrakusumah 1775 – 1789
    23. Dalem Aria Sacapati. 1789 – 1791
    V. MASA PEMERINTAHAN BELANDA.
    Merupakan Bupati Keturunan Langsung leluhur Sumedang.
    24. Pangeran Kusumadinata IX / Pangeran Kornel. 1791 – 1828
    25. Dalem Adipati Kusumayuda / Dalem Ageung. 1828 – 1833
    26. Dalem Adipati Kusumadinata X / Dalem Alit. 1833 – 1834
    27. Tumenggung Suriadilaga / Dalem Sindangraja 1834 – 1836
    28. Pangeran Suria Kusumah Adinata / Pangeran Sugih. 1836 – 1882
    29. Pangeran Aria Suriaatmadja / Pangeran Mekkah. 1882 – 1919
    30. Dalem Adipati Aria Kusumadilaga / Dalem Bintang. 1919 – 1937
    31. Tumenggung Aria Suria Kusumahdinata / Dalem Aria. 1937 – 1946
    VI. MASA REPUBLIK INDONESIA
    32. Tumenggung Aria Suria Kusumahdinata / Dalem Aria. 1945 – 1946
    33. R. Hasan Suria Sacakusumah. 1946 – 1947
    34. R. Tumenggung Mohammad Singer. 1947 – 1949
    35. R. Hasan Suria Sacakusumah. 1949 – 1950
    (Bupati terakhir keturunan langsung leluhur Sumedang)

    SEJARAH MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN
    Awal berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun, diawali berdirinya “Yayasan Pangeran Aria Soeria Atmadja (YAPASA)”, yayasan yang mengurus, memelihara dan mengelola barang – barang wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja Bupati Sumedang 1882 – 1919. Untuk melestarikan benda – benda wakaf tersebut YAPASA merencanakan untuk mendirikan Museum. Pada tahun 1973 YAPASA berubah nama menjadi Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) dan didirikan sebuah Museum yang bernama Museum Yayasan Pangeran Sumedang yang pada mulanya dibuka hanya untuk di lingkungan para wargi keturunan dan seketurunan Leluhur Pangeran Sumedang.

    Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk mengganti nama Museum YPS. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun” YPPS.

    Gedung pertama yang dipakai sebagai Museum adalah Gedung Gendeng.
    Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk memberi nama Museum YPS yang disampaikan pada forum Seminar Sejarah Jawa Barat. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun”


Top